Monday, November 18, 2013

Pendakian Gunung Tompotika

Gunung Tompotika tampak dari Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah | Foto: Ananto Praticno
Gunung bagi seorang penggiat alam bebas atau pendaki merupakan sesuatu yang membuat kaki terasa gatal untuk terus menjejakkan langkah menelusuri lekukan permukaan tanahnya, menelusuri sungai dan menerobos hutan untuk menggapai puncak-puncaknya. Tak peduli tubuh tergores duri, di gigit serangga, diselimuti kabut/salju, terbakar matahari dan bahkan terkubur tanah.

Kabupaten Banggai sebagai kabupaten di ujung timur Sulawesi juga memiliki beberapa gunung, diantaranya Gunung Tompotika 1530 Mdpl, Gunung Hek 2565 Mdpl dan Gunung Julutumpu 2230 Mdpl. Ketiga gunung tersebut termasuk dalam kategori tidak aktif. 

Gunung Tompotika walaupun ketinggiannya lebih rendah bila dibandingkan dengan dua gunung yang lain, namun gunung ini sangat dikenal oleh masyarakat kabupaten Banggai. Hal ini terkait dengan sejarah masa lampau masyarakat Banggai, Balantak dan Saluan. Di kalangan pendaki gunung terutama pencinta alam, gunung ini paling sering menjadi lokasi pendakian untuk berbagai kegiatan seperti ekspedisi, peringatan Hari Kemerdekaan maupun kegiatan pendidikan bagi anggota pencinta alam.

Jalur pendakian yang sering dilewati yaitu melalui Dusun Trans Tanah Merah Desa Sampaka Kecamatan Bualemo. Tranportasi menuju lokasi awal pendakian ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam dengan kendaraan angkutan umum roda empat maupun roda dua dari Luwuk ibukota Kabupaten Banggai.

Dari Dusun Trans Tanah Merah, pendakian dilakukan melewati kebun milik penduduk sekitar kemudian melewati hutan dan menyeberangi beberapa sungai dan tiba di lokasi Camp Damar dengan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dan kondisi medan bervariasi. Lokasi ini sering dijadikan tempat istirahat dan bermalam bagi para pendaki sebelum melanjutkan ke lokasi camp berikutnya pada esok hari dan disini kita harus mengisi air secukupnya untuk persediaan di lokasi camp berikutnya.

Perjalanan selanjutnya menuju Camp Pintu Angin dapat ditempuh kurang lebih 7 jam dengan kondisi jalur tanjakan dan melewati hutan pinus. Hutan pinus dijalur ini sering terbakar. Hembusan angin dingin di lokasi camp ini cukup kencang sehingga para pendaki menamakannya Camp Pintu Angin. Disini para pendaki sering bermalam sambil menikmati pemandangan Desa Bualemo dan sekitarnya.

Lokasi Pintu Angin Gunung Tompotika | Foto: Galank

Pada esok harinya, pendakian menuju Puncak Seasea yang merupakan puncak tertinggi di Gunung Tompotika. Para pendaki umumnya hanya membawa perlengkapan yang perlu serta kebutuhan makan dan minum, perlengkapan lainnya disimpan didalam tenda. Waktu tempuh dari lokasi Camp Pintu Angin menuju Puncak Seasea kurang lebih 2 jam dengan kondisi medan variasi dan melewati bebatuan dan pohon-pohon khas hutan tropis. Puncak Seasea tertutup pepohonan dalam balutan lumut. Perjalanan dapat dilanjutkan ke Puncak Tompotika dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam.

Setelah puas menikmati keindahan puncak Gunung Tompotika dan mengabadikan dalam bentu foto, para pendaki kembali turun menuju lokasi Camp Pintu Angin.  Biasanya setelah makan dan packing peralatan, perjalanan pulang menuju Dusun Trans Merah dimulai. Waktu tempuh perjalanan pulang ini kurang lebih 9 jam. Tiba kembali di dusun ini, para pendaki bisa bermalam dan esoknya dapat melanjutkan perjalanan pulang ke Luwuk.

Semoga bermanfaat, Salam Lestari!!! 


 

Selengkapnya

Friday, November 1, 2013

Jokowi Anak Mahasiswa Pecinta Alam

Joko Widodo (Jokowi) berpenampilan metal sudah banyak yang tahu. Tapi bagaimana jika Jokowi muda berpose di atas gunung, lengkap dengan sarung tangan dan teropong sambil membentangkan bendera Mahasiswa Pecinta Alam ( Mapala )?

Itulah foto jadoel Jokowi yang diambil tahun 1983 silam. "Iya itu saya," ujar Jokowi saat makan siang di rumah makan Bakul Tukul, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (31/10/2013).

Dalam foto hitam putih tersebut, Jokowi tampak mengenakan kaos lengan pendek, topi, dan sarung tangan. Dengan teropong yang dikalungkan di leher, Jokowi muda membentangkan bendera Mapala.

Jokowi mengatakan bahwa foto itu diambil saat dia bersama 11 temannya dari Yogyakarta naik Gunung Kerinci di Sumatera. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini lalu bercerita dengan antusias tentang hobinya naik gunung saat masih mahasiswa.

"Banyak (gunung yang sudah didaki). Yang paling berkesan ya Gunung Kerinci itu karena tracknya susah," ceritanya.

Perjalanan Jokowi saat itu ditempuh dengan menggunakan bus dari Yogyakarta ke Padang. Kemudian dari Padang ke Gunung Kerinci memakan waktu selama satu hari.

"Kerinci itu perjalanannya dua hari. Teman-teman saya semuanya gede-gede, saya sendiri yang kecil tapi saya duluan yang sampai," kata Jokowi sambil tersenyum.

Pria 52 tahun itu lupa kapan terakhir mendaki gunung. Namun, saat masih muda Jokowi mengaku bisa mendaki gunung setiap minggunya.
sumber : detik.com
 

Selengkapnya

Saturday, October 19, 2013

Pelatihan Kewirausahaan Pemuda Kristen Kabupaten Banggai 2013

Prihatin dengan makin meningkatkan jumlah angkatan kerja di Kabupaten Banggai yang tidak sebanding dengan jumlah serapan di lapangan pekerjaan yang ada, maka sebagai organisasi yang bergerak pada pemberdayaan pemuda, GMKI turut bertanggungjawab pada masa depan generasi muda khususnya generasi muda Kristen di Kabupaten Banggai dalam mendapatkan kehidupan yang baik.

Sadar akan tanggungjawab tersebut
, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Luwuk bekerja sama dengan Yayasan Bina Darma Salatiga dengan dukungan dari KNPI Kabupaten Banggai menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kewirausahaan bagi Pemuda Kristen se-Kabupaten Banggai.

Kegiatan yang dibuka oleh Imanuel Monggesang,SE Ketua BPC GMKI Luwuk, dilaksanakan pada tanggal 17-18 Oktober 2013 di Luwuk tepatnya di gedung Pemuda/KNPI Kabupaten Banggai ini diikuti sebanyak 35 Peserta yang berasal dari Utusan GMKI Cabang Luwuk, SMA GKLB dan Utusan Gereja.

Tampil sebagai fasilitator tunggal yaitu Bapak Andeka Rocky Tanaamah, SE, MCs yang merupakan Sekretaris Yayasan Bina Darma Salatiga. Materi dalam pelatihan tersebut, antara lain: Menjadi Wirausaha, Berpikir Perubahan, Berpikir Kreatif, Pengambilan Resiko, Kepemimpinan, Etika Bisnis, Mencari Gagasan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pembiayaan Usaha dan Menyususn Proposal Rencana Bisnis. Selain itu, peserta juga berkesempatan mendengarkan cerita kesuksesan usaha keripik dari mas Toto pemilik usaha Keripik "Wahyu"

Kegiatan selama dua hari tersebut ditutup oleh Imanuel Monggesang,SE Ketua BPC GMKI Luwuk yang berpesan agar apa yang telah didapatkan kiranya dapat dikembangkan sehingga dimasa yang akan datang tidak ada lagi pertanyaan "Anda kerja dimana" tetapi pertanyaannya adalah "Bagaimana usahamu sekarang". 
*IM

Selengkapnya

Thursday, October 3, 2013

Warning: Negara Indonesia Dalam Keadaan Genting, Ketua MK Ditangkap KPK?

Berita tertangkapnya salah satu Hakim Konstitusi yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi RI, merupakan pukulan berat bagi negara Indonesia yang sedang berjuang keluar dari epidemi penyakit korupsi yang telah menggerogoti bangsa ini, tak pandang lembaga yang dibentuk pasca reformasi 1998. Baca Penangkapan Ketua MK dan Akil Mochtar ditangkap
Mahkamah Konstitusi RI merupakan salah satu lembaga (tinggi) negara selain DPR, DPD, MPR, Presiden, Wakil Presiden, MA, BPK dan Komisi Yudisial yang kedudukannya sederajat dan sama tinggi dengan Mahkamah Agung. Baca Kedudukan Mahkamah Konstitusi Dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia. Maka Ketua MK merupakan salah satu pimpinan lembaga negara yang harus menjaga kewibawaan negara dengan perilaku yang seharusnya sebagai pemimpin. Ketika penangkapan AM dalam kapasitasnya selaku Ketua MK yang diduga terkait dengan Pilkada Gunung Mas Kalteng oleh KPK tentunya merupakan pukulan berat bagi kewibawaan lembaga negara tersebut dan lembaga negara lainnya.
Kondisi tersebut tentunya membuat negara Indonesia bisa dikatakan sedang dalam keadaan "genting", mengingat bila terungkap bahwa bukan hanya Pemilukada di Gunung Mas Kalimantan Tengah yang melakukan suap kepada oknum hakim MK, maka ini berarti proses demokrasi di daerah di Indonesia terjadi kecurangan secara sistemik, sehingga tak heran bila Pemimpin di daerah banyak yang tidak memikirkan kepentingan rakyatnya dikarenakan proses yang tak jujur. Lembaga negara telah hancur, negara kita telah keropos dan ini berarti Negara dalam keadaan "genting"!

Selengkapnya

Tuesday, August 20, 2013

Sistem Kontrak ala Pelatih Sepakbola Cocok Diterapkan Dalam Memilih Pemimpin

Ditengah maraknya kasus korupsi yang melibatkan banyak pemimpin, politisi, birokrat dan kemiskinan rakyat Indonesia yang semakin parah serta janji-janji politik yang tidak pernah terpenuhi, kita selalu diperhadapkan dengan agenda lima tahunan yaitu Pemilihan Umum Calon Anggota Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden maupun Pemilihan Umum Kepala Daerah. Rakyat Indonesia yang telah memiliki hak pilih memiliki kebebasan untuk menggunakan hak pilihnya atau tidak/golput.
Namun, proses politik tersebut kadang berujung pada kekecewaan terhadap pemimpin yang kita pilih karena tidak amanah. Menjadi pertanyan kita apakah sistem demokrasi yang kita anut selama ini hanya menghasilkan pemimpin / politisi yang bermental korupsi, kolusi dan nepotisme? Sehingga ada sebagian masyarakat yang ingin mengganti sistem demokrasi dengan sistem khilafah?
Saya bukan pakar politik untuk menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. Namun menurut saya ada solusi alternatif yang perlu dikaji bersama tentang pola atau sistem rekruitmen kepemimpinan secara nasional maupun daerah yang bisa diterapkan untuk memilih Pemimpin/Kepala Daerah di Indonesia, yaitu sistem kontrak ala pelatih sepakbola.
Sistem kontrak yang saya maksudkan disini mirip kontrak Pelatih klub sepakbola, dimana seseorang yang memiliki prestasi kepemimpinan akan dikontrak selama waktu tertentu untuk menjadi Gubernur, Bupati atau Walikota suatu daerah di Indonesia. Jadi bisa saja seseorang yang dianggap berprestasi memimpin suatu daerah misalnya daerah A setelah masa kontraknya berakhir akan dikontrak untuk memimpin di Daerah B.
Saya hampir meyakini dengan sistem kontrak seperti ini akan memacu setiap orang yang dikontrak menjadi kepala daerah untuk membuat prestasi yang baik bagi daerah yang mengontraknya dan apabila berhasil didaerah tersebut tentunya akan menaikan posisi tawarnya untuk memimpin di daerah lain yang bisa membayar lebih nilai kontraknya. Demikian sebaliknya apabila tidak berprestasi maka bisa saja diberhentikan atau tidak ada daerah yang berminat mengontraknya.
Mari kita diskusikan

Selengkapnya

Sunday, August 18, 2013

Selamat Hari Raya Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-68, mohon maaf lahir dan bathin

Menghadiri Upacara Proklamasi. foto: Alan
Sabtu, 17 Agustus 2013 pagi sekitar jam 07.03 Wita aku telah berkemas-kemas untuk menghadiri Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 Tahun 2013 di Kabupaten Banggai yang dilaksanakan di lapangan Alun-alun Bumi Mutiara Luwuk. Demi menghadiri acara ini aku tidak tidur semalaman, maklum kebiasaan burukku yang sering lupa bangun pagi. Aku hadir dalam kapasitas selaku Ketua Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Luwuk Banggai. Setelah berpakaian kemeja batik GMKI dan mengenakan atribut organisasi aku pun berjalan kaki menuju lapangan yang hanya berjarak kurang lebih 100 M dari kampus Universitas Tompotika Luwuk.

Di luar lapangan aku bertemu dengan rekan pengurus GMKI Cabang Luwuk, KNPI Kabupaten Banggai dan Pemuda Pancasila Kab. Banggai. tak lama bersenda gurau kami pun menuju alun-alun dan mengambil tempat duduk di barisan ke tiga tribun VIP B sebelah kiri tribun utama. 

Tak lama duduk kami diberikan souvenir dan snack dari panitia pelaksana. sambil menunggu Upacara dimulai kunikmati snack yang diberikan pandangan mataku mulai mengamati seluruh penjuru alun-alun. Dekorasi yang didominasi warna merah putih menghiasi tribun utama termasuk tribun yang kami tempati dan beberapa tenda. Dua buah baliho dari Bupati dan wakil Bupati tampak diseberang alun-alun berisi pesan HUT Kemerdekaan RI dan satu baliho dari Pengurus PPI Kab. Banggai didekat perempatan jalan serta beberapa spanduk ucapan dan umbul-umbul dipasang dipagar yang mengelilingi alun-alun. 

Di lapangan para peserta pun mulai mengatur barisannya masing-masing. Ada pasukan TNI, Polri, Pol PP, Polhut, Pemuda Pancasila, Pemadam Kebakaran, Dinas Perhubungan, KORPRI, Mahasiswa, Siswa SD-SMP-SMA dan Pramuka serta Kelompok Penyanyi dan Drumband. Sementara di tribun dan tenda mulai dipenuhi pejabat eselon II, III dan IV, veteran, organisasi kepemudaan, TP-PKK, Pengurus Pramuka, Camat, Lurah / Kepala Desa, orang tua Paskibraka, para penerima penghargaan dan undangan lainnya. Panitia dan petugas upacara pun sibuk mengatur segalanya dan mengambil posisi masing-masing.
Tak berapa lama kemudian rombongan Bupati dan Wakil Bupati Banggai serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah bersama istri pun tiba dan langsung menempati tribun utama. Perwira Upacara pun langsung melaporkan kesiapan pelaksanaan upacara kepada Bupati Banggai yang bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Di bawah cuaca yang cerah berawan Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di Kabupaten Banggai dimulai. Diawali dari laporan Komandan Upacara kemudian Paskibraka yang sukses mengibarkan duplikat bendera diringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dari Kelompok Penyanyi yang agak tidak bersemangat setelah itu Hening Cipta yang dipimpin oleh Bupati Banggai Bapak M. Sofhian Mile, dilanjutkan dengan Andika Bhayangkari. Pembacaan teks Proklamasi oleh Ketua DPRD Kabupaten Banggai Bapak Samsul Bahri Mang, naskah Pembukaan UUD RI 1945 oleh Ketua DPK KNPI Kab. Banggai Ibu Batia Sisilia Hadjar serta Pembacaan Doa oleh Kepala Kemenag Kab. Banggai.

Upacara pun selesai diisi dengan penyerahan penghargaan oleh Bupati Banggai yang didampingi Wakil Bupati dan Unsur Forkompimda kepada para penerima penghargaan. 

Ritual tahunan ini pun selesai. Namun ada beberapa saran yang menurut saya perlu diperhatikan kedepannya dalam penyelenggaraan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Banggai, yaitu:
1. Hari Kemerdekaan merupakan hari yang sangat berarti bagi seluruh Rakyat NKRI dalam sejarah perjuangan kebebasan dari penjajahan. Hendaknya perayaan Hari Kemerdekaan dikemas dalam bentuk pesta rakyat dimana rakyat merayakan kebebasannya dari ketertindasan dengan mengedepankan aspek sosialnya dibanding seremonial belaka.
2. Nasionalisme dan Patriotisme kita mungkin lagi dalam kondisi down. Bila perayaan Hari-hari besar agama banyak sekali baliho maupun spanduk ucapan yang terpampang disetiap sudut jalan dan rumah-rumah ibadah, namun ketika Hari Besar Nasional sangat kurang.
3. Terkait pelaksanaan Upacara Peringatan Proklamasi yang sempat saya ikuti tadi, ada beberapa catatan teknis :
a) Mikrofon Pembawa Acara bila tidak digunakan sebaiknya di-off-kan agar hembusan angin tidak mengganggu suasana khidmat.
b) Posisi pembaca acara dan segala macam hadiah/piala sebaiknya tidak berada disamping tribun utama agar tidak mengganggu pandangan dari undangan yang duduk di tribun belakang samping tribun utama, bisa saja dibuatkan satu tenda disamping kiri tribun VIP B.
c) Kameramen atau fotografer sebaiknya tidak bergerombol disamping tribun utama, selain berisik juga hilir mudik mengganggu pandangan para undangan. Gunakan lensa yang mampu menjangkau dari kejauhan.
d) Pasukan berbaris terutama kalangan PNS sebaiknya tidak semuanya diikutkan cukup keterwakilan agar tidak bergerombol atau diberikan tanggungjawab kepada masing-masing SKPD untuk menertibkan barisannya.
e) Pengibaran bendera yang merupakan inti acara sebaiknya dibuat kreatif lagi, misalnya pasukan 8 setelah menerima duplikat bendera, pasukan melakukan parade mengelilingi peserta upacara sebelum dikibarkan agar peserta dapat melihat bendera yang akan dikibarkan, maklum bendera adalah simbol negara yang mengandung nilai patriotisme disamping itu juga peserta ingin melihat kepiawaian baris berbaris Paskibraka.
f)  Kelompok Penyanyi/Paduan Suara sebaiknya yang sudah profesional agar kualitas suaranya terjamin
g) Inspektur Upacara sebaiknya membacakan teks proklamasi, karena pada saat proklamasi, Soekarno juga yang membacakannya teks proklamasi, kasihan juga Irup sudah capek-capek berdiri terus hanya berbicara "laksanakan", "lanjutkan", "bubarkan"

Mungkin itu saja masukan saya, kalau ada yang perlu ditambahkan silahkan atau ada yang perlu didiskusikan mari kita diskusikan bersama.

Selamat Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 Tahun 2013, Semoga menjadi Negara yang merdeka dengan Manusia yang merdeka!! Mohon maaf lahir dan batin.
Salam perjuangan



Selengkapnya

Saturday, August 17, 2013

Bagi Pemimpin Kita, Indonesia itu apa ya?


“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”- Soe Hok Gie.

Kalimat diatas dikatakan oleh Soe Hok Gie ketika dia bersama rekan-rekan pecinta alam ditanya oleh teman-temanya mengapa naik gunung. Kalimat yang bermakna mendalam soal bagaimana mencintai tanah air Indonesia. Bukan dengan pekikan "merdeka" tapi dengan mendekatkan diri kepada obyek yaitu alam dan rakyat Indonesia.

Tak terasa Negara Kesatuan Republik Indonesia telah berusia 68 tahun sejak diproklamirkan oleh anak muda Indonesia Soekarno-Hatta dan kawan-kawan. Perjuangan untuk bebas dari segala bentuk penjajahan telah di proklamasikan oleh para Founding Father negara ini. Indonesia pun telah berganti-ganti presiden sejak era Soekarno sampai SBY perjuangan untuk bebas dari penjajahan dengan memacu pembangunan terus dilakukan. Namun pertanyaannya apakah di usia yang terbilang cukup dewasa ini Indonesia telah bebas  menjadi bangsa yang merdeka? Bebas menentukan nasibnya sendiri tanpa intervensi dari pihak manapun? Secara jujur kita akan berkata belum dan malah jawaban ekstrim-nya kita malah semakin terjajah, secara ekonomi, politik, budaya, hukum dan lain-lain.

Berbagai sumber daya alam dan sendi ekonomi lainnya dikuasai oleh pihak asing, politik Indonesia dihuni politikus dan birokrat korup, budaya Indonesia tergerus budaya asing dan penegakkan hukum di Indonesia masih milik kaum berduit. Indonesia belum merdeka secara substansial.

Pemimpin kita baik di pusat maupun daerah belum mampu mengantarkan rakyat Indonesia keluar dari lingkaran kemiskinan. Cukup banyak pemimpin kita yang belum memiliki rasa cinta tanah air sehingga mengorbankan rakyatnya hanya untuk memperkaya diri dan kelompoknya dan sungguh banyak pemimpin kita yang bahkan tidak mengenal daerah dan rakyatnya dikarenakan tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan alam dan rakyatnya.

Salam

Selengkapnya

Sunday, July 28, 2013

Menanti Sentuhan Akhir dari Sang Pemimpin

Sentuhlah dia
Tepat di hatinya
Dia kan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan setulus cinta
Buat hatinya sampai melayang

Sepenggal lirik lagu "Rahasia Perempuan" Ari Lasso diatas seakan mengingatkan kita pada bagaimana seharusnya mencuri hati seorang perempuan. Perempuan yang bagi banyak lelaki normal merupakan sesuatu yang "misteri" kadang sulit dipahami, rumit dimengerti bahkan bisa menyebabkan serangan kegalauan. Namun sangat dibutuhkan dalam perjalanan hidup seorang lekaki didunia ini. Takdir seorang pria akan berpasangan dengan seorang lelaki hanya Tuhan yang tahu. Akan tetapi proses menuju takdir tersebut sangat ditentukan oleh yang namanya "sentuhan" dari seorang lelaki pada seorang perempuan.

Sentuhan akhir atau finishing touch akan menentukan dengan perempuan siapa seorang lelaki ditakdirkan. Masalah akan timbul ketika sentuhan akhir tidak equivalen dengan sentuhan awal pada saat bersepakat untuk berpacaran. Sehingga cukup banyak juga lelaki yang kemudian gagal menuju jenjang selanjutnya yaitu pernikahan ketika sentuhan ini terasa hambar, seperti pepatah bagaikan sayur tanpa garam.
Belajar dari lirik lagu Ari lasso diatas, di era kepemimpinan dalam atmosfir demokrasi dengan sistem pemilihan langsung maka proses memikat hati rakyat dengan sentuhan visi, misi dan program maupun gaya kepemimpinan merupakan suatu hal yang mutlak harus dilakukan oleh seorang kandidat Presiden/Kepala Daerah maupun Calon Anggota Legislatif.

Beberapa contoh pemimpin yang berhasil menyentuh dan mampu memikat hati rakyat dan kemudian memenangkan pertarungan dalam proses pemilihan kepala daerah. Jokowi atau Joko Widodo dan Ahok atau Basuki T. Purnama, dua sosok fenomenal yang mampu menyentuh hati rakyat DKI Jakarta pada Pemilukada DKI Jakarta tahun 2012 lalu. Jokowi - Ahok mampu memikat hati rakyat Jakarta dengan slogan "Jakarta Baru" dan kemeja kotak-kotak serta tawaran program-program diantaranya Kartu Jakarta Sehat dan  Kartu Jakarta Pintar. Ditambah lagi dengan gaya kepemimpinannya yang sederhana, tegas dan merakyat dengan gaya "blusukan". Nama Jokowi kemudian menjadi fenomena di Indonesia bahkan hasil survey beberapa lembaga survey menempatkan Jokowi sebagai kandidat Capres terkuat.

Contoh berikutnya, saya tidak mengambil sosok SBY karena kita pasti sudah tahu akhir ceritanya seperti apa, saya mengambil saja contoh untuk di daerah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah tempat saya lahir, besar dan mati mungkin contohnya adalah Sofhian Mile dan Herwin Yatim (Smile-Win). Pasangan ini memenangkan proses Pemilukada Kab. Banggai tahun 2011 dengan slogan "Membangun Banggai dari Desa" dan tawaran program yang disertai pengalaman Sofhian Mile sebagai mantan anggota DPR RI berhasil menyentuh hati rakyat Kabupaten Banggai untuk kemudian menggerakkan tangannya memilih pasangan ini di bilik suara.

Sentuhan awal telah merasuki hati rakyat, kepemimpinan telah diraih dan saat ini proses pemenuhan kebutuhan hati rakyat yang merupakan penggenapan janji saat kampanye sedang berjalan. Ditengah proses pemenuhan janji ini tentunya ada kritik, protes dan masukan yang harus dimaknai secara bijak sebagai bentuk timbal balik cinta agar hubungan antara rakyat dan pemimpin semakin erat.

Setiap awal pasti ada akhirnya, maka saat ini kita yang sedang dipimpin menanti sentuhan akhir dari pemimpin kita masing-masing. Apakah sentuhan akhir (finishing touch) tersebut akan berbuah gol kesuksesan yang membuat kita tambah jatuh cinta kepada pemimpin kita atau malah cinta kita diawal tadi berubah jadi cacian dan umpatan yang berujung pada kebencian? Pertanyaan ini hanya akan terjawab di akhir periode kepemimpinan Jokowi maupun Sofhian Mile serta pemimpin lainnya.

Selamat menanti sentuhan akhir pemimpin kita!

Selengkapnya

Saturday, July 27, 2013

Menjadi Pemateri pada LDK Pemuda Gereja se-Klasis Toili

Jumat, 26 Juli jam 07.41 Wita aku berangkat ke Toili untuk memberikan materi kepada para peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Pemuda Gereja se-Klasis Toili di Desa Bumiharjo Kecamatan Moilong Kab. Banggai. Perjalanan yang cukup melelahkan karena jarak dari Luwuk ke Toili kurang lebih 95 KM dengan kondisi jalan yang cukup parah berlubang disana sini.

Setelah 2,5 jam menelusuri jalanan akhirnya aku tiba di lokasi kegiatan tepatnya di gedung Gereja Jemaat Eklesia Desa Bumiharjo. Aku disambut oleh Prasetyo Widodo Sekretaris Kompelsus Pemuda Klasis Toili dan Pdt. Dewey Ketua MPH Jemaat Eklesia serta beberapa panitia. Suasana yang penuh keakraban sangat terasa. Obrolan pun dilanjutkan dirumah/pastory jemaat, tak lupa secangkir kopi disajikan.

Tak lama berselang, aku pun masuk ke gedung gereja untuk membawakan materi. Di hadapan kurang lebih 80-an peserta yang merupakan pemuda utusan dari beberapa jemaat di wilayah Klasis Toili aku memperkenalkan diri dan kemudian memaparkan materi Dasar-dasar Organisasi, dimulai dari Definisi Organisasi, Tujuan Organisasi, Ciri-ciri Organisasi sampai Tipe Organisasi. Kurang lebih 20 menit aku menjelaskan tentang organisasi itu. Setelah itu sesi pertanyaan pun dibuka oleh moderator. Cukup banyak pertanyaan dari peserta dari soal organisasi secara umum, gereja sampai soal pengalamanku berorganisasi. Aku pun memberikan penjelasan dan berbagi pengalaman yang kadang disertai gurauan biar suasana tidak tegang. Akhirnya setelah hampir 2 jam berdiskusi materipun ditutup oleh moderator.

Sehabis istirahat dan makan siang, aku kembali lagi membawakan materi. Kali ini dengan materi Tata Cara Persidangan. Di awali dari Pengertian, Unsur-unsur persidangan, Bentuk dan Jenis Persidangan, Quorum dan Pengambilan Keputusan, Penggunaan palu sidang sampai istilah yang biasa digunakan dalam persidangan. Pada sesi ini banyak sekali peserta yang bertanya. Setelah aku menjelaskan, sesi selanjutnya yaitu simulasi. Dari peserta dipilih 3 orang untuk memimpin sidang. Materi yang dibahas dalam simulasi ini yaitu tata tertib kegiatan. Aku sedikit  menjelaskan proses simulasi ini dan selanjutnya memberikan kesempatan kepada 3 orang peserta yang dipilih tadi pun memimpin sidang. Lucu dan menarik. Cukup terlihat kalau peserta memahami materi yang aku berikan walaupun ada beberapa yang masih perlu di latih lagi, maklum belum terbiasa. Selesai simulasi aku menyampaikan beberapa point hasil evaluasi sekaligus kata perpisahan karena harus kembali ke Luwuk. Pemateri lain pun sudah siap untuk membawakan materi selanjutnya.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada para panitia dan pendeta yang ada saat itu, aku pun berangkat pulang. Dalam perjalanan pulang ke Luwuk aku merenung bahwa sangat penting bagi Pemuda Kristen khususnya pemuda Gereja untuk selalu diberikan pelatihan kepemimpinan sebagai proses penyiapan kader pemimpin baik pemimpin gereja maupun masyarakat nantinya. 

Sukses buat Pemuda GKLB Klasis Toili !

Selengkapnya

Friday, July 26, 2013

Air Terjun "Taloyon"

1374782572300760959

Air terjun "taloyon" begitu biasa kami anak-anak Mapala Univ. Tompotika  menyebutnya berada di wilayah Desa Taloyon Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Jarak dari Luwuk Ibukota Kabupaten Banggai kurang lebih 60 KM dapat ditempuh dengan kendaraan mobil atau sepeda motor kurang lebih 2 jam dan untuk sampai ke lokasi air terjun ini membutuhkan kurang lebih 5 jam perjalanan kaki dari Desa Taloyon dengan kondisi medan yang menanjak menelusuri punggungan perbukitan dan pastinya membuat energi kita agak terkuras.

Aku pertama kali ke tempat ini ketika menemani adik-adikku di MAPALA UNTIKA yang sedang mengikuti Pendidikan Pemantapan dengan jalur pemantapannya yang melintasi Desa Taloyon Kec. Pagimana menuju Desa Tontuan Kec. Luwuk.

13747828111385477242

Perjalanan melewati perkebunan kakao milik warga setempat dengan kondisi medan masih agak landai, namun setelah memasuki hutan kondisi medan mulai menanjak dan terus menanjak sampai menemui padang ilalang. Kondisi medan yang banyak ditumbuhi ilalang ini variatif dengan pemandangan yang luas dan indah membuat kita kagum, sejenak kita bisa melupakan lelah.  Setelah itu kita akan memasuki hutan, medan mulai menurun dan curam dan bunyi riak air terjun mulai terdengar dan tak berapa lama kita akan melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah Air Terjun Taloyon.

1374782700771183790

Lihat saja foto-fotonya, pasti damai dan indah ya!

Selengkapnya