Showing posts with label Lain. Show all posts
Showing posts with label Lain. Show all posts

Wednesday, March 25, 2015

Catatan saya tentang almarhum Bapak Haris Dayanun



Pagi itu saya telah tiba di Kantor BKD Kab. Banggai untuk menemui Pimpinannya yang kala itu dipimpin oleh Almarhum. Sebelumnya saya belum pernah berdialog langsung dengan beliau walaupun sering bertemu dibeberapa kesempatan.
Saya pun disuruh menunggu oleh staf beliau karena beliau masih sedang menerima tamu diruangannya. Rasa khawatir berkecamuk dalam diri saya karena memikirkan apa yang harus saya ungkapkan ketika bertemu beliau nanti.
Akhir tak berapa lama beliau keluar dari ruangannya dengan beberapa tamu, seorang staf memberitahu beliau bahwa saya ingin bertemu dengannya. Beliau pun menemui saya dan saya pun menjabat tangannya, kami pun duduk saling berhadapan disalah satu meja staf beliau.
Beliau kemudian menanyakan apa keperluan saya. Saya pun menyampaikan bahwa saya ingin pindah kantor karena saya sudah lelah bolak balik Luwuk-Hunduhon selama kurang lebih 8 tahun. Beliau tersenyum kemudian tertawa dan kemudian berkata, ebeeh atina ubak, gunting pe'e baru oko pindah. Saya pun tersenyum dan berkata' siap pak!.
Beliau kemudian menanyakan kepada saya mau dipindah di kantor mana? Saya menjawab terserah bapak saja, tetapi saya suka di Kantor Bappeda atau Distamben. Saya kemudian menyampaikan pesan pak Bupati melalui seseorang kepada beliau, beliau pun tersenyum dan kemudian memanggil stafnya. Tolong urus akan dia punya ini, 3 hari dia datang ambe, tapi gunting pe'e atina ubak. Saya pun berkata siap pak, saya kemudian menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Setelah itu saya pamit dan mengikuti stafnya untuk mengurus berkas kepindahan saya.
Tiga hari kemudian, saya dihubungi beliau untuk datang ke kantor mengambil nota dinas, saya pun ke kantornya dan mengambil surat tersebut dari beliau. Beliau sempat memuji rambut saya yang sudah digunting rapih. Atina asik baru pagawe, rapih. Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada beliau dan pamit pulang.
Begitulah pengalaman saya tentang almarhum Bapak Haris Dayanun. Selamat Jalan Bapak, semoga kebaikanmu diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa.

Selengkapnya

Tuesday, February 17, 2015

Begitu Mudahnya Kita Mencari Salah daripada Mencari Benar


Memang begitu mudah bagi kita untuk memberi komentar terhadap sesuatu yang terjadi disekitar kita, walaupun kita bukan berada dipihak yang sedang terlibat permasalahan tapi hanya membaca, melihat, mendengar atau menonton setiap rangkaian peristiwa yang terjadi.

Pada kasus yang dialami Bangsa Indonesia akhir-akhir ini, kita pun walau dengan latar yang minim soal politik dan hukum tanpa diminta ikut memberi pandangan atau komentar. Bahkan ikut mencari tumbal atas kedangkalan nalar analisa kita. Kita pun ikut meramaikan situasi sulit yang sedang dialami kedua lembaga penegak hukum di Indonesia, baik didunia maya maupun didunia nyata. 

Media pun menjadi konsumsi wajib kita tanpa melakukan filter yang baik pada setiap informasi yang kita baca, dengar atau tonton. Setidaknya kita pun ikut andil pada kekisruhan yang sedang dialami dua institusi tersebut. Berbagai tagar dan gambar meme kita buat dan disebarkan agar meramaikan kisruh tersebut.

Kebebasan berpendapat kita dijamin negara melalui aturan hukum yang ada, namun bila pendapat yang kita sampaikan bukan dari analisa ilmiah apalagi dengan kemampuan keilmuan yang terbatas, maka pendapat kita bukan ikut meredakan kisruh tapi malah menambah kisruh.

Pada kisruh POLRI - KPK yang diawali dengan kasus hukum yang sedang dialami personilnya masing-masing. Begitu mudah kita kemudian berkesimpulan bahwa ini semua karena kesalahan Presiden Joko Widodo yang mengusulkan seorang calon pejabat negara yang diduga memiliki rekening gendut dan kemudian setelah diusulkan KPK menetapkan tersangka. Padahal, diawal pengusulan Komjen BG belum berstatus tersangka. Kita lupakan bahwa wakil rakyat yang telah kita pilih untuk mewakili sikap kita tetap melakukan fit and proper test pada seorang tersangka dan merestui tersangka untuk menjadi Kapolri. Kita tetap menyalahkan Jokowi yang tidak segera bertindak untuk menyelesaikannya dengan menunda-nunda pelantikan atau pembatalan Komjen BG yang telah menjadi tersangka.

Demikian juga pada hukuman mati bagi terpidana kasus narkoba. Kita pun menyalahkan Jokowi yang tidak menggunakan haknya selaku Presiden untuk memberi ampunan/grasi kepada para terpidana. Padahal bila Jokowi memberi grasi maka para terpidana tersebut akan bebas, sekali lagi kita mengabaikan dampak perbuatan yang telah dilakukan para terpidana tersebut dengan alasan kemanusiaan dan hak hidup hanya bisa dicabut oleh yang Maha Kuasa.Sanksi hukuman mati pun bukan dijatuhkan oleh Jokowi selaku Presiden tetapi oleh hakim yang mengadili perkara kasus tersebut dan Presiden tidak bisa mengintervensi hakim dalam menjatuhkan vonis hukuman mati pada terdakwa. Tetapi kita tetap bersikukuh bahwa Presiden Jokowi ikut bertanggungjawab.

Lebih aneh lagi, ketika hakim Sarpin yang mengadili kasus gugatan praperadilan oleh Komjen BG terhadap penetapan tersangka oleh KPK dan beliau mengabulkan gugatan pihak Komjen BG, kita pun ramai-rami menyalahkan Jokowi. Padahal hakim Sarpin ketika akan memutuskan gugatan tersebut tanpa meminta pertimbangan Presiden.

Lebih gila lagi, kita mengatakan menyesal memilih Jokowi, padahal belum tentu juga Presiden selain Jokowi itu akan bertindak diluar aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

Olehnya itu, kita bependapat secara bijak dan biarkan Presiden melakukan tanggungjawabnya menyelesaikan permasalahan bangsa ini sesuai kewenangannya dan aturan yang berlaku.

Presiden harus tunduk pada konstitusi dan kehendak rakyatnya, rakyat juga harus tunduk pada konstitusi dan kebijakan yang dilakukan Presiden dan membantu Presiden mencari kebenaran dan keadilan.

Selengkapnya

Tuesday, February 10, 2015

Tipe Kepribadian: Pemikir Analitis



Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru. 

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!

Selengkapnya

Saturday, December 20, 2014

Sahabat: Begini Cara Mengucapkan Selamat Natal Untukku Tanpa Mengurangi Kadar Imanmu


Setiap memasuki bulan Desember dimana pada bulan ini umat Kristen merayakan hari besar gerejawi yaitu hari kelahiran Yesus, kita direpotkan dengan polemik halal atau haram mengucapkan selamat "natal" oleh elemen umat lainnya. Polemik ini kadang memicu renggangnya hubungan kemanusiaan antar sesama warga negara Indonesia.

Kita sering membaca status orang lain di media sosial dan media berita online yang mengharamkan sesama manusia yang berbeda agama agar tidak saling mengucapkan selamat pada hari-hari besar keagamaan. Sebagai penganut agama Kristen, saya hanya bisa tersenyum dan bergumam dalam hati, kita yang merayakan mengapa kamu yang repot? Harusnya setiap perayaan agama apapun membawa sukacita bagi semua orang.

Untuk itu kali ini saya memberikan alternatif ucapan "natal" kepada umat lain yang ingin tetap menjaga rasa persaudaraan sesama anak bangsa Indonesia  dengan memberi ucapan kepada sahabat, rekan, teman atau keluarga tanpa mengurangi kadar keimanan masing-masing. 

Kata "natal" dari bahasa Portugis bermakna "kelahiran" dan secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Dies Natalis. Natal (kelahiran) akan bermakna perayaan hari kelahiran Yesus (Isa Al-masih) bila digabungkan menjadi Natal Yesus atau Natal Yesus Kristus. Sehingga bila kita hanya memberi ucapan selamat natal hanya bermakna selamat lahir atau selamat ulang tahun. Hanya kemudian Natal menjadi identik dengan perayaan umat Kristen akan kelahiran Yesus. Akan tetapi dalam hal ucapan kita tidak menyebut Nabi/Tuhan umat lain, sehingga kepercayaan dan hubungan persaudaraan tetap terjaga.

Dari pengertian diatas, maka silahkan memakai ucapan yang sesuai, misalnya;
- Selamat Natal = Selamat Lahir
- Selamat Hari Natal = Selamat Hari Lahir
- Selamat Hari Raya Natal = Selamat Hari Besar Kelahiran
- Selamat Hari Raya Natal Yesus = Selamat Merayakan Hari Kelahiran Yesus.

Silahkan memberi ucapan sesuai dengan keyakinan dan ketulusan hati kita masing-masing. Salam Anak Bangsa.













Selengkapnya

Saturday, November 29, 2014

Foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla

Banyak sekarang beredar di masyarakat foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang merupakan hasil editan, untuk itu berdasarkan hasil penelusuran saya di portal nasional www.indonesia.go.id dan www.setneg.go.id inilah foto resmi Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.



Ir. H. Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia


Nama:Ir. H. Joko Widodo
Lahir:Surakarta, 21 Juni 1961
Agama:Islam
Isteri:Iriana Joko Widodo
Anak:
1. Gibran Rakabuming Raka
2. Kahiyang Ayu
3. Kaesang Pangarep
Pendidikan :
SMP Negeri 1 Surakarta
SMA Negeri 6 Surakarta
S-1 Kehutanan Universitas Gajah Mada


Karir dan Organisasi:
2014 - sekarang Presiden Republik Indonesia 
2012-2014:Gubernur DKI Jakarta
2005-2012Walikota Surakarta
2002-2007Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta
1992-1996Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta
1990:Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo


Penghargaan :

  • Satya Bhakti - Kadin Jawa Tengah - 2007
  • Leadership Awards - Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara & Leadership Park- 2008
  • Pelopor Inovasi Pelayanan Prima - Presiden Republik Indonesia - 2010
  • Innovative Government Award - Kementerian Dalam Negeri - 2010
  • Apresiasi Visit Indonesia - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata - 2010
  • Inovasi Manajemen Perkotaan Awards - Kementerian Dalam Negeri - 2011
  • Satya Lancana Pembangunan Bidang Koperasi - Presiden Republik Indonesia - 2011
  • Bintang Jasa Utama - Presiden Republik Indonesia - 2011
  • Satya Lencana Karya Bakti Praja Nugraha 
  • Piagam Penghargaan Anubhawa Sasana Kelurahan - Kementerian Hukum dan HAM








Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
Wakil Presiden Republik Indonesia



Nama:Muhammad Jusuf Kalla
Lahir:Watampone, 15 Mei 1942
Agama:Islam
Isteri:Mufidah Miad Saad
Anak:
1. Muchlisa Kalla
2. Muswirah Kalla
3. Imelda Kalla
4. Solichin Kalla
5. Chaerani Kalla
Pendidikan :
  • Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967.
  • The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977)



Riwayat Pekerjaan :

2014 - sekarang :Wakil Presiden Republik Indonesia 
2012 - sekarang:Ketua DEwan Masjid Indonesia
2009 - sekarang:Ketua Palang Merah Indonesia
2004 – 2009:Wakil Presiden Republik Indonesia
2001 – 2004:Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rayat Republik Indonesia
1999 – 2000:Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia

Penghargaan
  • Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Makassar
  • Doktor HC dibidang perdamaian dari Universitas Syah Kuala Aceh pada 12 September 2011
  • Doktor HC dibidang pemikiran ekonomi dan bisnis dari Universitas Brawijaya Malang pada 8 Oktober 2011
  • Doktor HC dibidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia pada 9 Februari 2013
  • Penghargaan BudAi (Budaya Akademik Islami) dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang
  • Penghargaan Tokoh Perdamaian dalam Forum Pemuda Dunia untuk Perdamaian di Maluku, Ambon, 2011
  • Penghargaan Dwidjosowojo Award dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera
  • The Most Inspiring Person

Selengkapnya

Tuesday, August 19, 2014

Sepenggal Kisah Unik: Tolong Menolong Tanpa Saling Mengenal.



Pada hari Sabtu, 16 Agustus 2014 saya bersama tim KNPI Kab. Banggai menuju Kecamatan Toili yang jaraknya kurang lebih 2 jam perjalanan dari Luwuk untuk meninjau kondisi terkini warga masyarakat pasca bencana banjir yang melanda wilayah Batui - Toili sekaligus menyerahkan bantuan dari KNPI Kab. Banggai.
Setelah Tim KNPI Kab. Banggai meninjau lokasi dan berdialog dengan beberapa tokoh masyarakat serta menyerahkan bantuan, sore harinya seluruh tim beristirahat disalah satu warung untuk makan karena dari siang belum makan sekaligus melepas lelah dalam perjalanan. Sehabis makan semuanya masih duduk-duduk sambil ngobrol karena cuaca diluar masih hujan rintik-rintik.
Tiba-tiba diseberang jalan terdengar bunyi kendaraan yang tergelincir, semuanya keluar untuk melihat kejadian tersebut. Ternyata seorang ibu yang mengendarai sepeda motor tergelincir akibat jalan yang licin karena hujan.
Beberapa teman menolong ibu tersebut dan mengangkatnya ke teras toko diseberang jalan serta memberikan minuman kepada ibu tersebut yang rupanya mengalami shock dan luka ringan dikakinya, sementara teman yang lain memindahkan sepeda motor milik ibu tersebut ke tepi jalan.



Teman saya Andi yang memiliki keahlian medis dengan meminjam peralatan P3K dari salah satu pengendara mobil pun mulai membersihkan luka dikaki ibu tersebut. Setelah luka dibersihkan kemudian ibu Batia Sisilia Hadjar yang juga berada didekat korban secara spontan langsung mengobati luka dikaki ibu tersebut dan kemudian membalutnya. Tak berapa lama setelah itu korban mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan perjalanannya dan kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke Luwuk.


Dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada teman-teman di mobil apa ibu yang korban tadi mengenal ibu yang mengobati lukanya dan apa ibu yang mengobati luka juga mengenal ibu yang korban tersebut? Jawabannya tentu saja tidak, karena kami semua tidak ada yang sempat bertanya  nama ibu tersebut dan alamatnya dimana. Kami pun kembali dengan rasa penasaran, siapa nama ibu tersebut? Unik juga, tolong menolong tanpa sempat saling mengenal. Luar biasa.


Selengkapnya

Monday, July 21, 2014

Lelah Hati Menanti Lahirnya Pemimpin Baru

Prabowo Subianto, Presiden SBY dan Joko Widodo  | foto: merdeka.com

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan sarana politik dan pesta demokrasi dimana rakyat memilih wakilnya maupun pemimpinnya untuk mewakili dan memimpinnya menuju pada kebaikan hidup berbangsa dan bernegara. Pemilu Legislatif pada 9 April 2014 lalu telah usai dan telah ditetapkan para wakil rakyat yang duduk di DPR/DPD/DPRD Provinsi dan Kabupaten. Selanjutnya pada 9 Juli 2014 telah dilakukan pemungutan suara untuk Pemilu Presiden/Wakil Presiden RI. Saat ini sedang dilakukan Rapat Pleno Rekapitulasi Perolehan Suara secara nasional oleh KPU yang akan menjadi dasar dalam menetapkan pemenang Pilpres 2014 yang sesuai jadwal resmi tanggal 22 Juli 2014. Semua mata dan telinga Rakyat Indonesia ditujukan ke Gedung KPU Jalan Gatot Soebroto Jakarta.

Namun, ditengah prosesi tersebut rakyat Indonesia juga disuguhkan adegan desakan penundaan rekapitulasi tersebut dari kubu Prabowo Subianto - Hatta Rajasa, sementara di kubu Joko Widodo - Jusuf Kalla menghimbau para pendukungnya untuk tenang, tidak perlu merayakan kemenangan dengan aksi dijalan, cukup dirumah atau berdoa syukur saja. Dua adegan ini tentu menambah panjang episode drama Pilpres ini.

Rakyat sebenarnya sudah mulai lelah hati, jenuh dan bahkan muak melihat berbagai intrik saat menunggu proses penetapan siapa yang terpilih. Hal ini disebabkan rakyat sudah kehabisan energi saat bertarung membela kandidatnya di masa kampanye. Berbagai indikasi kejenuhan politik rakyat tersebut bisa dilihat dari kehadiran pemilih di beberapa TPS yang dilakukan pemungutan suara ulang yang sepi dan bahkan sama sekali tidak ada yang datang. Rakyat pun tahu masih ada satu tahapan lagi yang bisa ditempuh kandidat yaitu sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi. Selain itu, harga sembako yang naik disaat bulan puasa dan menjelang lebaran tentunya membuat rakyat tambah mual dan muntah melihat para elit yang hanya peduli dengan kursinya tanpa memikirkan apa yang tersaji diatas meja rakyatnya. 

Syukurlah ada beberapa anak bangsa yang cukup cerdas memanfaatkan kemampuan IT untuk melakukan real count akibat manuver ketidakpercayaan pada hasil quick count dari beberapa lembaga survey kredibel untuk melumpuhkan kejenuhan politik rakyat, seperti kawalpemilu.org, data-pilpres.umm.ac.id, 2jutarelawan.com, dll. Sehingga sebagian rakyat Indonesia yang sudah melek internet telah mengetahui siapa yang memperoleh suara terbanyak pada gelaran Pilpres 2014.

Entah sampai kapan lelah hati Rakyat Indonesia menantikan ditetapkannya Presiden/Wakil Presiden ini, berharap sikap kenegarawanan dari kandidat mungkin seperti membelai daun di siang bolong berharap tetesan embun. Mungkin hanya mudik ke kampung halaman bertemu keluarga dan teman lama setidaknya mengobati kejenuhan rakyat. Bagi mereka yang mudik harap tetap berhati-hati, agar masih bisa melihat siapa  Presiden/Wakil Presiden RI yang terpilih untuk memimpin kita di tahun 2014-2019.

Salam Indonesia Jaya!!

Selengkapnya

Saturday, July 5, 2014

Saya Tidak Ragu Pada Kepemimpinan Joko Widodo


Saya pernah merasakan aktivitas sebagai seorang anggota Pecinta Alam di Kampus Universitas Tompotika (MAPALA UNTIKA) Luwuk Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah saat masih kuliah. Sebagai manusia yang pernah dikader didunia kepecintaalaman tentu bukan hal yang luar biasa bagi saya ketika melihat keindahan alam Indonesia. Namun nilai-nilai kebersamaan, keberanian bermain di alam bebas, cepat dan tepat mengambil keputusan dan tanggungjawab yang tinggi terhadap Tuhan, Bangsa dan tanah air serta dalam menjaga kelestarian alam dan bermasyarakat merupakan hal yang harus ditanamkan bagi setiap individu penggiat alam bebas.

Kesederhanaan seorang pencinta alam sering terpancar dari tindakannya. Namun pemikiran anak-anak pecinta alam ini terbilang kreatif, hal ini dikarena setiap individu harus memiliki kemampuan bertahan hidup dimanapun dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam diri maupun lingkungan sekitar maka kreatifitas amat penting.

Pagi ini saya kebetulan membuka akun FB saya, dan di time line saya melihat fan page Generasi Optimis yang menampilkan video dukungan kepada Bapak Joko Widodo. Saya pun tertarik untuk membuka. Sungguh luar biasa alam Indonesia, dengan latar musik yang pas dipadu suara Bapak Joko Widodo yang disampaikannya pada closing statement Debat Capres 3. Perasaan terharu saya mendengar suaranya dan melihat keindahan Indonesia. Nonton videonya di bawah ini


Joko Widodo seorang senior di Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM dengan Nomor Anggota 0216/MSG. Saya percaya beliau sangat mencintai Indonesia dan rakyatnya seperti ungkapan Soe Hok Gie “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Saya tidak pernah ragu akan nasionalisme, patriotisme dan integritas serta karakter Bapak Joko Widodo. Saya tidak akan heran bila karakter kepemimpinannya yang merakyat dan sederhana karena saya memahami karakter seorang pecinta alam. Selamat berjuang seniorku Joko Widodo untuk memimpin kami Rakyat Indonesia, saya percaya Tuhan selalu beserta orang benar dan rendah hati. 

Kita lahir disini, Kita hidup disini, kita mati disini. Indonesia. Salam 2 jari.

 

Selengkapnya

Friday, July 4, 2014

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok Langitan, perihal sosok Jokowi, bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

“Pak, ke-Islaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya ke-Islaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

“Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan diri menjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

“Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu. Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

“Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),” kata Jokowi ditirukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

“Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi, jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

“Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untuk menghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

“Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

“Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.
Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Selengkapnya

Thursday, June 19, 2014

12 Alasan Memilih Jokowi (Joko Widodo) Calon Presiden NKRI 2014


oleh: Novrianto Kahar (Direktur Yayasan Denny JA)

Ketika berlibur di rumah mertua di Malang pekan lalu, saya menemukan sebagian keluarga dekat istri masih cukup terpesona dengan tampilan dan retorika capres nomor urut 1. Saya bisa memaklumi keterpesonaan mereka. Namun begitu, saya merasa terpanggil untuk mengingatkan mereka bahwa capres nomor urut 2 akan lebih baik dan maslahat bagi mereka dan bagi Indonesia di lima tahun ke depan. Karena cuma berdialog santai, saya waktu itu belum sempat mengemukakan alasan secara runtut dan rinci. Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi alasan kenapa saya, Anda, dan rakyat Indonesia perlu mendukung dan menyoblos pasangan capres dan cawapres Jokowi-Jusuf Kalla di Pemilu Presiden 9 Juli mendatang.

Berikut 12 alasan saya...

1. Jokowi berprestasi
Anda dapat periksa ini baik ketika dia memimpin Solo maupun Jakarta. Saya bertanya ke Pakde saya yang cukup berwawasan dan bermukim di Solo tentang pendapat dia soal prestasi Jokowi di Solo. Pandangannya positif semua, tidak jauh dari apa yang dikata atau dustakan Fadli Zon di layar kaca. Saya tidak tahu prestasi Gubernur Jakarta sebelum Jokowi, tapi dalam waktu singkat 2 tahun, di mata saya Jakarta banyak berubah. Kemacetan memang belum sirna, tapi upaya untuk mengatasinya dengan berbagai cara tampak sedang bekerja. Kebanjiran memang masih ada, tapi sungai-sungai tempat air mengadu dan berlalu pun tampak sudah genah. Prestasi yang lebih pasti dapat anda tanyakan kepada mereka-mereka yang tersentuh langsung oleh kebijakan Jokowi-Ahok di Jakarta.


2. Jokowi itu manusiawi.

Jokowi tidak angker dan bukan sosok pemarah. Dia bukan tipe pemimpin yang asal sikat jika sedang merencanakan sebuah rencana kerja. Bila dia ingin merelokasi pedagang kaki lima, dia akan ajak mereka bicara. Dia siapkan alternatif-alternatif lahan penghidupan bagi mereka. Jokowi tahu, semua manusia sekecil apapun harus dimanusiakan, bukan diperlakukan dengan akal-akalan dan semena-mena. Kita sudah lama menyaksikan pemimpin arogan yang langsung kirim preman atau pentungan demi menggusur rakyat jelata yang ingin mereka tata. Jokowi bukan tipe pemimpin yang menang-mentang seperti itu. Dia tipe pemimpin yang mengerti betapa beratnya perjuangan hidup di kalangan rakyat jelata.  


3. Jokowi tidak atau belum korupsi.

Dilihat dari gaya hidup pribadinya, Jokowi tampak akan lebih tulus mengabdi dan berbakti. Dia hidup sederhana, dan tidak punya kuda yang kelak harus diurus negara. Mobil dinasnya pun cuma Innova. Apakah ongkos politik kelak mengharuskannya untuk korupsi? Mungkin saja! Tapi kemungkinan itu jauh lebih kecil pada Jokowi dibanding rivalnya. Rivalnya telah lama mengeluarkan ongkos miliaran rupiah untuk beriklan di layar kaca. Mau tahu ongkosnya, coba hitung saja! Satu slot iklan 30 detik di televisi itu minimal harus keluar 20 juta. Anda tinggal kalikan berapa slot sehari dan berapa tahun lama rivalnya mencitrakan diri di layar kaca.


Apakah bukannya Jokowi yang sibuk mencitrakan diri dengan aksi blusukannya? Anda harus ingat, Jokowi memang sempat lama ngiklan gratis di layar kaca, karena dulu dia memang kekasih media. Sebelum separtisan sekarang ini, sehari tanpa berita Jokowi bagi media kita bagaikan belum bersantap dan mandi pagi. Itu karena sang maha rating sangat berkuasa di bisnis media, terutama tivi. Tatkala pertarungan politik dimulai, media-media yang partisan tadi baru sadar betapa bahayanya mempromosikan Jokowi di media mereka. Kini kita melihat, beberapa media yang dulu 'menjual' Jokowi, sedang sibuk membujuk pemirsa untuk tidak 'membelinya'


4. Jokowi produk reformasi.
Bagi pemilih pemula yang tidak mengerti pentingnya reformasi, cobalah bayangkan ini! Anda masih muda, penuh gelora, ingin bebas bersuara. Tapi saban kali menyuarakan keluhan-keluhan hidup anda, anda sangat mungkin ditangkap dan diculik oleh rezim yang berkuasa. Anda tidak bisa sebebas sekarang menyuarakan kepahitan, kegalauan, kemuakan, dan keputusasaan Anda menghadapi keadaan dan sistem politik yang ada. Itulah era Orde Baru yang kini kembali dipuja rival Jokowi. Anda perlu mengerti, Jokowi bukan bagian dan produk rezim yang anti-kebebasan itu, dan jika jadi Presiden, jauh kemungkinan dia akan mengembalikan Anda ke era jahiliah itu.


5. Jokowi tegas menjalankan Konstitusi.

Ini saya saksikan tatkala dia mempertahankan kesetaraan kesempatan seluruh warga negara untuk menjadi pejabat publik. Lebih spesifik tatkala dia tidak sekadar mencari aman dan tegas mempertahankan posisi Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli tatkala dipersoalkan pihak-pihak yang tak senang dengan status agama dan gendernya. Bersama Jokowi, saya tidak khawatir akan ada warga negara yang disingkirkan dari posisi atau jabatannya karena alasan sentimen-sentimen primordial seperti kesukuan maupun agama seperti disinyalir Hashim Jayadiningrat terjadi di Kementerian Pertanian baru-baru ini. Saya yakin pada komitmen Jokowi dalam soal ini, lebih yakin dari komitmen kakak Hashim sendiri.  


6. Jokowi lebih sedikit berjanji.

Saya memilih presiden yang lebih sedikit berjanji karena saya akan lebih sedikit dikecewakan. Lebih dari itu, janji-janji masa kampanye bagi saya tak lebih dari gombal-gombal saat pacaran. Saya tentu menaruh harapan agar presiden mendatang mampu membuat ekonomi kita lebih baik, keamanan lebih terjaga, kebebasan tetap terpelihara. Tapi jika ada yang berjanji akan menigakalilipatkan pendapatan saya, saya akan anggap itu angin-angin surga dan tipu daya belaka. Seingat saya, Jokowi tidak terlalu banyak menjanjikan hal yang muluk-muluk. Ini berbeda dengan rivalnya yang sangat berani berjanji agar memikat hati pemilih.

7. Jokowi membuat Anda peduli dan berpartisipasi.
Jokowi tidak memberi anda instruksi, tapi anda justru peduli dan tergerak untuk berpartisipasi, bahkan dengan mengorbankan waktu dan materi. Itulah tipikal pemimpin yang mampu memberi inspirasi. Bersama Jokowi, anda peduli bahwa negeri ini perlu berbenah, perlu berubah. Anda suka rela ikut serta berkontribusi demi merawat mimpi perubahan itu. Dengan kepedulian dan partisipasi semacam ini, Jokowi akan berutang budi kepada anda, bukan kepada penyumbang antah-berantah yang kelak akan akan menggerogoti anggaran negara demi mengembalikan investasi mereka. Jokowi lebih banyak berhutang kepada ketulusan Anda, bukan kepada uang muka proyek yang dijanjikan kepada pengusaha.  


8. Jokowi anti-diskriminasi.

Ini sudah terbukti baik di Solo maupun Jakarta. Bersama Jokowi, anda tak perlu khawatir akan diperlakukan berbeda dan teraniaya karena suku, ras, agama, dan antar-golongan (SARA) anda. Para pendukung diskiriminasi SARA memang tidak akan suka pada Jokowi. Itu bukan kisah baru dalam peradaban umat manusia. Berada dan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan pihak yang banyak memang mudah dan itulah tuntutan demokrasi. Tapi menghargai dan memastikan pihak minoritas tidak terdiskriminasi juga membuktikan kematangan dan anti-mentang-mentang dalam iklim demokrasi.  


9. Jokowi tidak bagi-bagi kursi.

Yang ini anda boleh percaya boleh tidak. Soalnya dalam koalisi partai-partai, sangat mustahil tidak terjadi power sharing atau pembagian kekuasaan. Namun, jika anda buat perbandingan, Jokowi tidak sevulgar rivalnya dalam mengumbar pengkavlingan kekuasaan. Bersama Jokowi, pos-pos kementerian negara lebih mungkin tidak dijadikan lahan bagi-bagi hadiah kepada rekan koalisi. Bersama Jokowi, kita lebih mungkin mendapatkan Menteri Agama yang tidak mengorupsi dana haji, Menteri Komunikasi dan Informasi yang lebih mengerti urusan informasi-teknologi, Menko Ekuin yang tak membuat bocor Anggaran Pendapatan Belanja Negara sampai ribuan triliun rupiah. Saya tidak terlalu yakin, tapi lebih mungkin daripada rivalnya.

10. Jokowi belum bernoda.
Setahu saya, Jokowi belum punya rekam jejak suram di masa silam. Dia tidak pernah dipecat dari jabatan, atau melarikan diri ke luar negeri demi lepas dari jerat hukum, atau pun memperkaya diri karena berkuasa. Kini ada yang menuduh Jokowi terlibat kasus korupsi bus Transjakarta. Menurut kawan yang ahli bidang kajian korupsi, dalam kasus ini, Jokowi bersih! Tapi bagaimana dengan munculnya sosok-sosok yang diduga kuat punya rekam jejak buruk masa lalu yang kini menggelendoti Jokowi? Ya, Jokowi sebagaimana kita semua, mungkin saja ternoda. Dalam bahasa fikih, Jokowi mungkin saja ternodai (mutanajjas), tapi dirinya sendiri belumlah bernoda (najis). Ini lebih baik dari dia yang pada dirinya sendiri adalah noda dan dikelilingi orang-orang atau kelompok yang memang bernoda.  


11. Jokowi tidak akan merecoki.

Jika anda anak muda yang kreatif dan sedikit usil, yakinlah bahwa Jokowi yang berjiwa rocker tak akan merecoki urusan anda. Sekalipun anda membuat parodi tentang dirinya, mencemooh tampang ndeso-nya, atau mungkin ingin mengumpatnya. Saya yakin, Jokowi tak akan gundah, rapopo, dan woles saja. Kebebasan dan kreativitas anda tak akan dia hambat dan haling-halangi. Karena tidak berkoalisi dengan pihak-pihak yang suka merecoki urusan orang lain, dia pun lebih mungkin tidak menggunakan pihak ketiga untuk menggebuk anda. Jika Jokowi menjadi Presiden, Anda tak perlu khawatir berekspresi dengan Facebook, Twitter, atau media sosial lain yang menyinggung-nyinggung dirinya. Saya haqul yakin akan watak Jokowi dalam soal ini dibanding rivalnya.       


12. Jokowi realistis soal ekonomi.

Sepanjang yang saya simak dari debat capres putaran kedua 15 Juni lalu, Jokowi tampak tak akan gegabah mengurusi ekonomi. Dia sangat peduli dengan ekonomi berdikari dan pemberdayaan wong cilik, tapi dia juga tidak akan membuai anda dengan retorika-retorika kosong tentang nasionalisasi. Saya merasa iklim investasi kita akan lebih baik dan bersih bersama sosok yang kurang mencemaskan bagi pelaku ekonomi. Saya pun yakin, kebocoran uang negara akan lebih mungkin disumbat oleh Jokowi. Rasanya, dia bukan tukang tambal ban yang sudah bersekongkol dengan para penebar paku jalanan. Keyakinan saya pada Jokowi dalam aspek ini melebihi keyakinan saya pada retorika rivalnya!


Inilah 12 alasan saya mendukung Jokowi. Semoga ini juga menjadi alasan anda hadirat pembaca. Pendek kata, bagi saya memberi alasan kenapa memilih ini dan bukan itu adalah yang pertama, sedangkan siapa sosok presidennya adalah nomor dua. Sekian dan silakan disiarkan.


*Novri merupakan alumni Pondok Modern Gontor tahun 1996 dan meneruskan kuliahnya di Universitas Al Azhar Kairo hingga tahun 2001. Selanjutnya, Novriantoni mengambil jenjang Magister Sosiologi di Universitas Indonesia. Pandangan Novri ini ditulisakan dalam artikel panjang yang Anda bisa nikmati tulisannya di bawah ini:



Selengkapnya

Thursday, June 12, 2014

Download Lagu Salam Dua Jari Slank bersama Komunitas Revolusi Harmoni




Grup Musik Slank bersama beberapa artis baru-baru ini mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden RI Bapak Joko Widodo - Jusuf Kalla dalam konser dengan tajuk Revolusi Harmoni untuk Revolusi Mental Indonesia.

Dalam deklarasi tersebut dirilis juga lagu "Salam Dua Jari" yang diciptakan Slank dan dinyanyikan bersama Komunitas Revolusi Harmoni antara lain, Slank, Elo, Opie Andaresta, Kikan, JFlow, Michael J, dll

Silahkan download lagunya disini: klik gambar Salam Dua Jari dibawah ini

https://www.tusfiles.net/5plcsn4hazpn


Lirik lagu

"Salam Dua Jari"

Kita harus menang total

Dukung Revolusi Mental
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi (Jeka)


Tanggal sembilan Juli (jangan salah pilih, yang baik yang dipilih)
Kita pesta demokrasi
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi


Gondrong sampai botak
bajunya kotak-kotak
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi


Ini jaman demokrasi
Kalau beda jangan sensi
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi
Salam Dua Jari
Jangan Lupa pilih Jokowi

Ini produk keren, unik, silahkan di beli
http://zocko.it/LCg38





Keren kan? Ok sobat, Salam Dua Jari




















Selengkapnya