Friday, February 7, 2014

Mengenal Kuskus Beruang ( Kuse' ) Sulawesi

A.  Klasifikasi Kuskus Beruang
Menurut Wikipedia (2013), klasifikasi kuskus beruang sebagai berikut:
Kingdom           : Animalia
Phylum              : Chordata
Class                  : Mamalia
Sub-Class           : Marsupialia
Ordo                  : Diprotodontalia
Sub-ordo            : Phalangeriformes
Family                : Phalangeridae
Genus                : Ailurops
Spesies               : A. Ursinus
B.  Morfologi Kuskus Beruang
Kuskus beruang ukuran tubuhnya hampir seperti kucing atau bahkan bisa lebih besar. Warna tubuh jantan dan betina tidak ada perbedaan. Panjang ekor hampir sama panjang dengan panjang tubuh, bagian ekor ditumbuhi rambut dari pangkal sampai lebih dari setengah panjang total ekor, sisa ujung ekor yang tidak ditumbuhi rambut berwarana hitam, ujung ekor  ini sangat kuat dan dapat digunakan untuk bergelantungan atau melilit batang dahan pohon saat mencari makan (prehensil) dan dapat digunakan sebagai alat untuk menggantung yang menahan seluruh beban tubuh saat dengan posisi kepala di bawah saat mencari makan di pohon.
Daun telinga pendek, hampir tidak terlihat karena tersembunyi dibawah rambut-rambut kepala, bagian luar dan dalam telinga berambut. Warna dasar tubuh bagian atas adalah hitam pucat dengan rambut bagian punggung berwarna coklat kehitaman, beberapa rambut bagian tubuh lain berwarna kuning kecoklatan atau lebih pucat.
Famili Phalangeridae dari ordo marsupialia terdiri lebih dari 17 spesies, yang sebagian besar tergolong hewan pemakan segala (omnivora) dan pemakan tanaman (herbivora) (Flannery et al.,1987). Menurut George (1987) famili phalangeridae memiliki wilayah penyebaran yang luas diantara bangsa-bangsa marsupialia Australia lainnya dan terdapat di Australia, Tasmania, Papua New Guinea, dan beberapa pulau disebelah timur garis wallacea sampai Pulau Solomon. Pulau Sulawesi di Indonesia merupakan batas paling barat dan pulau Solomon merupakan batas paling timur jangkauan wilayah penyebaran kuskus
            Penyebaran kuskus di Indonesia hanya terbatas di wilayah Indonesia Timur yaitu meliputi Pulau Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan Timor. Kinnaird (1997) dan MacKinnon (1992) melaporkan bahwa di Sulawesi terdapat dua jenis kuskus yaitu kuskus beruang (Airulops ursinus) dan kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis). Kuskus beruang merupakan spesies yang paling besar dan paling primitif diantara famili phalangeridae lainnya yang sangat berbeda dengan kuskus kerdil yang ukuran tubuhnya relatif kecil tapi pintar dan kuskus beruang hanya ditemukan di Kepulauan Sulawesi dan sekitarnya. Oleh karena itu kuskus ini merupakan salah satu satwa endemik Indonesia Timur. Kuskus ini tergolong satwa yang biasa hidup di atas pohon (arboreal) yang banyak berlindung dibawah kanopi pohon-pohon di hutan dataran rendah, aktif sepanjang hari, dan umumnya dijumpai berpasangan (Tarmudji dan MacKinon, 1980). Menurut Van der Zon (1979), penyebaran kuskus beruang   di Indonesia meliputi Pulau Sulawesi, Peleng, Talaud, dan Malange, dengan habitatnya adalah hutan dataran rendah hingga ketinggian 2000 meter.
            Ciri-ciri kuskus menurut Petocz (1994) antara lain badannya agak besar dan kokoh dengan panjang tubuh seukuran dengan babi berumur dua bulan, mempunyai ekor prehensil yang panjangnya hampir sepanjang badannya dan sepanjang sepertiga bagian ujungnya tidak berbulu yang sering digunakan untuk mengait pada dahan atau ranting untuk bergelantungan dan berpindah tempat, kepala bulat dengan telinga pendek atau tidak mencolok serta mata yang menonjol keluar. jari-jari kuskus berjumlah lima buah yang semuanya bercakar tajam dan sangat membengkok, kecuali ibu jarinya. Ibu jari dan jari keduanya berhadapan dengan jari ketiga dan jari keempat menjadi satu sehingga terlihat seperti sebuah jari dengan dua kuku. Pada waktu memegang cabang, dua jari pertama cakar ini berhadapan dengan ketiga jari lainnya. Semua memiliki jari-jari kaki pertama yang seperti ibu jari, dan pada kaki belakang jari tersebut tidak bercakar. Kemampuannya untuk memegang cabang dengan keempat kakinya dan mengaitkan dirinya dengan ekornya yang prehensial, menjadikan satwa ini menjadikan satwa ini menjadi pemanjat yang hebat dan sulit dilepaskan dari sebuah cabang. Ciri-ciri lain dari kuskus menurut Nowak (1999) adalah bulunya halus dan tebal menyerupai wol pada semua genus kecuali Wyulda.
            Kuskus betina memiliki kantung yang terletak pada kulit perutnya, berkembang dengan baik, membuka ke arah depan , dan mempunyai empat puting susu. Lama masa kebuntingan pada satwa ini sangat singkat yaitu kira-kira satu bulan. Saat dilahirkan bayi kuskus masih berbentuk mudigah (embrio) yang secara alami akan merayap menuju kantung induknya, berdiam dalam kantung dan akan mengisap puting susu induknya untuk selama 6-7 bulan. Setelah masa itu anak kuskus akan mulai belajar memakan pakan seperti yang dimakan oleh induknya
            Menurut George (1982) dan Grzimek (1972) kuskus merupakan binatang arboreal dengan ekor yang dapat memegang dahan atau ranting (prehensil) dengan kuat. Kuskus beruang mempunyai kebiasaan hidup berpasangan dan aktif sepanjang hari (diurnal) terutama siang hari, berbeda dengan jenis kuskus lainnya yang umumnya aktif pada malam hari (nocturnal) (Kinnaird,1997). Dwiyahreni et al. (1999) melaporkan bahwa habitat aslinya kuskus beruang menggunakan waktunya sebanyak 63,4% untuk istirahat dan tidur, 23% untuk merawat tubuh, 7,5% untuk berpindah tempat, 5,6% untuk makan, dan 0,4% untuk aktivitas sosial (Nurjaeni, 2001)
 
C.  Habitat Kuskus Beruang
Kuskus Beruang Sulawesi merupakan salah satu hewan endemik Indonesia yang hanya bisa ditemui di Pulau Sulawesi. Hewan yang juga disebut Kuse ini tinggal di atas-atas pohon di hutan Sulawesi dan memakan dedaunan serta buah-buahan. Mereka tergolong binatang soliter (penyendiri), tetapi pada saat musim kawin mereka akan hidup dalam kelompok kecil yang berisi induk dan anak-anaknya.
Pergerakan kuskus beruang tergolong tidak biasa. Kuskus beruang akan menggunakan ekornya untuk mencengkeram ranting pada saat berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Mungkin kita akan sedikit kesulitan untuk menemukannya di alam liar karena selain dia tinggalnya di atas pohon, binatang unik ini juga termasuk binatang yang pendiam. Bahkan dia tidak akan bersuara kalau tidak merasa terganggu atau terancam (Hafizsumarno, 2012)
Hewan unik ini hanya mengalami masa melahirkan sekali atau dua kali saja dalam satu tahun. Kuskus beruang memiliki kantung yang berfungsi untuk menggendong anak-anaknya. Seperti layaknya kangguru, kantong kuskus beruang juga terdapat pada bagian perut.
Hal lain yang unik yang dimiliki oleh hewan pohon ini adalah kegemarannya tidur. Hampir sama dengan Koala, hewan langka ini juga gemar sekali tidur. Hal ini mereka lakukan untuk membantu proses pencernaannya. Jika spesies kuskus biasanya aktif di malam hari (nokturnal), lain lagi dengan kuskus beruang yang justru lebih aktif di siang hari. (Faunague, 2012).
Kuskus beruang merupakan satwa yang menghabiskan banyak waktunya dikanopi pohon (arboreal) sehingga pengamat berpeluang dapat bertemu dengan kuskus beruang dihabitat utama dari satwa ini dikanopi bagian atas hutan hujan tropis Sulawesi
Kuskus beruang hidup sendiri-sendiri, tidak berkelompok. Mereka mendiami bagian atas pohon-pohon tinggi. Untuk bergerak dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain, kuskus beruang menggunakan ekornya. Ekor kuskus beruang berfungsi untuk mencengkram dahan pohon. Habitat kuskus beruang adalah hutan-hutan di Sulawesi, Kepulauan Togian, Pulau Peleng dan Kepulauan Talaud. Sayangnya, binatang unik ini terancam punah. Penyebabnya adalah perburuan dan rusaknya habitat (Dini Lestari, 2012).
 
D.  Daerah Jelajah Kusksus Beruang
Daerah jelajah adalah suatu faham abstrak yang menyatakan jumlah gerakan pindah suatu hewan selama masa tertentu (Birute Marija, 1978)
Homerange  adalah daerah dimana hewan tersebut hidup. Home range hewan adalah suatu tempat dimana hewan-hewan tersebut menutupi/berkisaran pada tempat tersebut untuk mencari makan, kawanan, dan lain-lainnya. Daerah jelajah ini tidak hanya dihuni oleh satu spesies saja. Didalam home range tidak terjadi tingkah laku yang agresif. Sebuah home range mungkin akan dipertahankan oleh sebagian atau seluruh spesies yang berada pada wilayah tersebut (Nurjeni, 2001).
Kuskus beruang bergerak lambat dari satu pohon ke pohon lainnya menggunakan ekor prehensilnya dan tangan serta kakinya Kuskus beruang aktif pada siang hari (diurnal)Sebagian besar aktivitas hariannya banyak digunakan untuk beristirahat dan tidur, sedikit waktunya digunakan untuk makan dan mengutu (grooming), waktunya untuk berinteraksi juga sangat sedikit, kegiatan tersebut dilakukan sepanjang siang dan malam. Waktu istirahatnya yang banyak digunakan untuk mencerna selulosa dari dedaunan sebagai sumber makanannya yang mengandung sedikit nutrisi (Sptn bantimurung, 2011).
Makanan kuskus Beruang adalah daun-daun muda. Bunga-bungaan dan buah masih mentah. Kuskus beruang suka daun muda karena lebih mudah dicerna dan lebih sedikit racunnya (Yefbenedicpanjaitan, 2011).
Pakan yang disukai kuskus adalah buah-buahan dan daun serta dalam jumlah sedikit berupa bunga dan kulit batang (Farida et al.,1999), sedangkan kuskus beruang di habitat aslinya paling banyak mengkonsumsi pucuk daun muda dan batang muda (Nurjaeni, 2001).
 
E.  Stratifikasi Hutan
Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan pertumbuhan secara  vertikal didalam suau komunitas pertumbuhan atau ekosistem hutan. Pada tipe ekosistem hutan hujan tropis, stratifikasi itu terkenal dan lengkap. Tiap lapisan dalam stratifikasi itu disebut status atau strata
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pada hutan tropis terdapat pepohonan yang tumbuh membentuk beberapa stratum tajuk. Stratifikasi yang terdapat pada hutan hujan tropis dapat dibagi menjadi lima stratum berurutan dari atas ke bawah, yaitu stratum A, stratum B, stratum C, stratum D, dan stratum E (Arief, 1994) Masing-masing stratum diuraikan sebagai berikut:
1.   Stratum A (A-storey), yaitu lapisan tajuk ( kanopi ) hutan paling atas yang dibentuk oleh pepohonan yang tingginya lebih dari 30 m. Pada umumnya tajuk pohon pada stratum tersebut lebar, tidak bersentuhan ke arah horizontal dengan tajuk pohon lainnya dalam stratum yang sama, sehingga stratum tajuk itu berbentuk lapisan diskontinu. Pohon pada stratum A umumnya berbatang lurus, batang bebas cabang tinggi, dan bersifat intoleran (tidak tahan naungan).
2.   Stratum B (B-storey), yaitu lapisan tajuk kedua dari atas yang dibentuk oleh pepohonan yang tingginya 20-30 m. Bentuk tajuk pohon pada stratum B membulat atau memanjang dan tidak melebar seperti pada tajuk pohon pada stratum A. Jarak antar pohon lebih dekat, sehingga tajuk-tajuk pohonnya cenderung membentuk lapisan tajuk yang kontinu. Spesies pohon yang ada, bersifat toleran (tahan naungan) atau kurang memerlukan cahaya. Batang pohon banyak cabangnya dengan batang bebas cabang tidak begitu tinggi.
3.   Stratum C (C-storey), yaitu lapisan tajuk ketiga dari atas yang dibentuk oleh pepohonan yang tingginya 4-20 m. Pepohonan pada stratum C mempunyai bentuk tajuk yang berubahubah tetapi membentuk suatu lapisan tajuk yang tebal. Selain itu, pepohonannya memiliki banyak percabangan yang tersusun dengan rapat, sehingga tajuk pohon menjadi padat. Pada stratum C, pepohonan juga berassosiasi dengan berbagai populasi epipit, tumbuhan memanjat; dan parasit .
4.   Stratum D (D-storey), yaitu lapisan tajuk keempat dari atas yang dibentuk oleh spesies tumbuhan semak dan perdu yang tingginya 1-4 m.Pada stratum ini juga terdapat dan dibentuk oleh spesies pohon yang masih muda atau dalam fase anakan (seedling), terdapat palma-palma kecil, herba besar, dan paku-pakuan besar.
5.   Stratum E (E-storey), yaitu tajuk paling bawah atau lapisan ke lima dari atas yang dibentuk oleh spesies-spesies tumbuhan penutup tanah (ground cover) yang tingginya 0-1m. Keanekaragaman spesies pada stratum E lebih sedikit dibandingkan dengan stratum lainnya.
Perluh diketahui tidak semua tipe ekosistem hutan memiliki lima stratum tersebut diatas. Oleh karena itu, ada hutan yang hanya memiliki sratum A, B, D, dan E, atau A, C, D, dan E dan lain sebagainya.

Sumber : http://adhyflower.blogspot.com/2013/11/mengenal-kuskus-beruang-sulawesi.html

Selengkapnya

Sunday, January 26, 2014

Download Game PC: Angry Birds Space




Memainkan game Angry Birds seperti bermain ketapel, namun dibutuhkan keterampilan dan strategi kita untuk menyelamatkan burung-burung yang terperangkap. Permainan ini cukup bagus untuk mengisi waktu luang kita. silahkan download saja langsung link-nya dibawah.






Silahkan download di sini :

Game PC Angry Birds Space (Full Version)




Selengkapnya

Thursday, January 23, 2014

Banjir Ludah Jelang Pemilu 2014




Awal tahun 2014 kita disibukkan dengan masalah air. Air hujan yang berlimpah tak mampu lagi diserap bumi mengakibatkan banjir dimana-mana di Indonesia. Banjir pun menimbulkan korban jiwa dan harta benda. Indonesia pun darurat.


Namun selain bencana air alam tersebut, kita juga sedang mengalami atau menikmati banjir ludah yang muncrat dari mulut para penjaja visi misi untuk mendulang suara nanti pada Pemilu 2014. Dimana-mana kita sering bertemu dengan para penjual ludah ini, baik dijalan, warung kopi, pasar, bahkan dalam situasi bencana pun mereka tetap menjajakan ludah berbalut manisnya janji-janji politik yang enak didengar namun sebenarnya baunya busuk kalau sampai ludah tersebut menempel di pipi kita, apalagi kalau kita sampai merasakan ludahnya.

Kita sadar dan kita pun telah belajar dan paham dari beberapa pengalaman pada momentum demokrasi seperti Pemilu 1999, 2004, 2009 dan Pemilukada bahwa saat ini rakyat tidak lagi membutuhkan ludah. Sudah cukup tebal ludah yang menempel di pipi dari berbagai jenis mulut para penjaja ludah. Saat ini kita butuh yang namanya jejak rekam atau track record seseorang untuk menjadi wakil rakyat/pemimpin. Kita butuh figur seseorang yang konsisten dan komitmen antara ucapan dan tindakan. Kita tidak butuh lagi politisi bermodalkan ludah.

Sudah cukup ludah yang kita tumpahkan ke tanah air kita, jangan kotori lagi tanah ini dengan ludah busuk. Saatnya kita mengukir jejak diatas tanah dengan menjual kompetensi, integritas dan profesionalitas yang telah kita bukukan dalam lembar sejarah perjalanan hidup kita sebelumnya, dan biarkan semua fakta itu yang berbicara bahwa kita benar-benar layak dipilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin bangsa ini. 

Bagi rakyat Indonesia, jangan lagi dibodohi para penjual ludah, bijaklah dalam memilih agar 5 tahun kedepan  kita tidak lagi bersungut-sungut karena kita telah memilih ludah yang busuk.

Salam Demokrasi.








Selengkapnya

Monday, January 20, 2014

Mendulang Suara di Tengah Bencana?


Sebelumnya saya mohon maaf bagi para korban bencana dimanapun berada, tulisan ini bukan bermaksud melecehkan saudara/saudari sekalian, akan tetapi tulisan ini hanya sebagai hasil perenungan terhadap fenomena baru yang terjadi disekitar kita yang sepertinya perlu juga kita kritisi terhadap kehadiran atau perilaku partai maupun caleg yang tiba-tiba hadir dengan segala atributnya ditengah para korban bencana alam maupun bencana buatan.

Bencana alam baik itu banjir, longsor, erupsi gunung api, dan lain-lain bukan merupakan takdir yang tiba-tiba hadir menghempaskan kehidupan manusia. Dalam pemahaman saya, setiap bencana merupakan sebuah proses sebab akibat. Sejak saya SD dulu dalam mata pelajaran IPA kita diajarkan apabila kita mengunduli hutan maka akan terjadi erosi dan banjir. Pelajaran ini seharusnya membuat hidup kita bisa bersahabat dengan alam. Bagaimana kita memperlakukan alam agar bermanfaat dalam kehidupan kita dan menjaganya agar tetap lestari.

Kita menyadari, bahwa kondisi alam dan lingkungan Indonesia sedang mengalami degradasi akibat keserakahan sebagaian manusia yang hanya mementingkan kehidupannya tanpa memikirkan kelangsungan hidup manusia berikutnya. Berbagai lembaga, baik pemerintah maunpun NGO telah menyampaikan laporan tentang kondisi alam kita yang sudah pada tahap kritis akibat penebangan pohon, tambang dan perkebunan skala besar secara legal maupun illegal.  Kemudian perilaku kita yang masih sering lupa tempat buang sampah dimana.

Awal Tahun 2014, rasa solidaritas kebangsaan kita sedang di uji dengan berbagai macam bencana. Dimana-mana terjadi bencana banjir, longsor, erupsi, kebakaran dan lain-lain. Rasa persaudaraan kita sebagai sesama manusia dan anak bangsa ikut tergerak untuk membantu meringankan kesedihan dari saudara/saudari kita yang sedang mengalami derita. Semua bergerak. Lembaga/institusi pemerintah maupun masyarakat terjun ke medan bencana untuk memberi pertolongan, seperti BNPB, PMI, Tagana, Yayasan, dan lain-lain. Berbagai Posko Bantuan didirikan dimana-mana untuk menggalang dan menyalurkan segala bentuk bantuan. Tak ketinggalan pula Partai Politik maupun Caleg / Capres secara individu ikut bersama-sama berbagi bantuan.

Bantuan bagi korban bencana maupun bagi orang yang sedang membutuhkan merupakan hal yang biasa selama itu dilakukan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan tanpa berharap sesuatu dibalik bantuan tersebut, kecuali pinjaman bantuan kredit bank atau usaha finance.
Namun, ada fenomena yang menarik bagi kita saat ini, dimana beberapa partai politik maupun calon anggota legislatif ikut terjun memberikan bantuannya lengkap dengan atribut kepartaian. Sekali lagi, hal ini biasa saja apabila dilakukan dengan tulus dan ikhlas tanpa berharap "sesuatu" dibalik bantuan tersebut. Sayangnya bila ada parpol atau caleg yang memanfaatkan bencana ini sebagai ajang untuk menunjukkan bahwa partai atau caleg tersebut sangat peduli dengan korban bencana sehingga para korban nanti kemudian akan memilihnya pada Pemilu April 2014 mendatang.

Perlu kita sadari bahwa Partai Politik adalah lembaga politik yang merekrut para Caleg dan pemimpin eksekutif dan kemudian dipilih oleh rakyat untuk mewakili aspirasi rakyat dan memimpin rakyat menuju pada kesejahteran seluruh rakyat. Parpol maupun Aleg/Caleg bukanlah sinterklas yang datang disaat kita sedang tertimpa bencana, akan tetapi Parpol/Aleg/Caleg melalui lembaga legislatif maupun eksekutif memperjuangkan kebutuhan rakyatnya agar terhindar dari bencana kebodohan, kemiskinan, kemelaratan, kebanjiran dan sebagainya.

Pertanyaan kita sekarang adalah apakah ada parpol maupun anggota legislatif/caleg yang begitu gigih memperjuangkan mitigasi bencana? Apakah ada parpol maupun anggota legislatif/caleg yang begitu gigih memperjuangkan hutan Indonesia agar tetap lestari? Apakah ada parpol maupun anggota legislatif/caleg yang begitu gigih memperjuangkan masalah lingkungan di Indonesia?

Misalnya saja di Provinsi DKI Jakarta, ketika Jokowi memprioritaskan Jakarta bebas dari banjir dan macet, apakah semua partai yang memiliki kursi di DPRD DKI Jakarta ikut mendukung sepenuhnya program Pemprov. DKI Jakarta? Atau malah mungkin sebaliknya mereka berharap agar banjir tetap terjadi sehingga Jokowi gagal mengatasi banjir  sehingga dengan sumringah mereka segera turun lengkap dengan atributnya mendirikan Posko dan memberikan bantuan agar menarik simpati rakyat dan di cap Partai Peduli Banjir untuk mendulang suara di tengah banjir tersebut demi kepentingan Pemilu pada April 2014.
Kita berharap semoga kerisauan saya ini tidak pernah ada dihati kita, karena seperti pepatah dulu mengatakan "lebih baik mencegah daripada mengobati", lebih baik mencegah banjir daripada berharap suara ditengah banjir.

Mungkin dibalik meluapnya bantuan kita perlu menaikkan status hati kita dari "waspada" menjadi "siaga" agar bisa memaknai bantuan yang tak tulus dan ikhlas. Jangan menuai kepentingan dari derita para korban.
Salam Adil dan Lestari!

Selengkapnya

Sunday, December 1, 2013

Ruhut Sitompul, Sang Kontroversi Namun Disukai


Ruhut Sitompul, SH, anggota DPR RI asal partai berlambang mercy ini sudah sangat terkenal di masyarakat Indonesia, baik sebagai pengacara, pemain sinetron maupun sebagai politisi. Walaupun akhir-akhir ini beliau terkenal dengan pernyataannya yang cenderung kontroversi dan bernada rasis, seperti menantang Jokowi untuk berdebat, sehingga kadang beliau sering dikecam dan di-bully di media sosial, namun pamor si Poltak tak pernah surut.

Kehadiran Ruhut Sitompul bersama Jafar Hafsah sebagai nara sumber pada kegiatan Seminar Empat Pilar Kebangsaan yang diselenggarakan oleh MPR RI Fraksi PD pada tanggal 30 November 2013 di Gedung SKB di Luwuk Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah merupakan sosok yang dinantikan oleh masyarakat Luwuk Kab. Banggai. 

Peserta yang semula hanya ditargetkan oleh pihak penyelenggara sejumlah 200 orang malah membludak hingga 300-an orang, melebihi kapasitas ruangan yang hanya mampu menampung kurang lebih 250 orang. Sehingga menyebabkan ruangan seminar yang digelar pada sore hari tersebut terasa panas.  Peserta yang hadir dari berbagai kalangan dan organisasi kepemudaan tersebut pun berebutan untuk foto bersama dengan kedua politisi senayan tersebut sejak dari gerbang di halaman gedung sampai kedalam ruang seminar. Keduanya pun dengan sabar meladeni permintaan para peserta untuk berfoto dan tanda tangan. Hal yang sama juga terjadi saat seminar usai.

Disela-sela seminar tersebut, Ruhut menyatakan bahwa bila orang tidak menyukainya maka pasti tidak ada yang mau berfoto bersama, tapi kenyataannya banyak yang minta untuk berfoto bersama.

Menurut Kamhar Lakumani, SP selaku penyelenggara seminar bahwa kehadiran Ruhut Sitompul dan Jafar Hafsah selain menjadi nara sumber seminar 4 pilar kebangsaan, juga untuk bertemu para kader Partai Demokrat di Kabupaten Banggai. Kamhar Lakumani merupakan salah satu calon anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah dari Partai Demokrat pada Pemilu 2014. Sebelum seminar, pada pagi hari Ruhut Sitompul menyempatkan diri mengunjungi para penjual di Pasar Simpong Luwuk

Memang kadang kontroversi bukan berarti benci. Terima kasih kepada bang Ruhut Sitompul dan bapak Jafar Hafsah yang telah mengunjungi Luwuk ibu kota Kabupaten Banggai di ujung timur Provinsi Sulawesi Tengah.




Selengkapnya

Thursday, November 28, 2013

Caleg Tertua, umur 954 Tahun !




Bila kita benar-benar ingin menjadi pemilih yang cerdas tentunya kita harus mengenal sosok calon yang akan kita pilih untuk mewakili kita duduk di lembaga legislatif. Namun, ada yang cukup "aneh" pada profil Daftar Caleg Tetap (DCT) anggota DPR RI. Salah seorang calon anggota DPR RI tertulis berusia 954 tahun!

Caleg tersebut adalah Hj Pinasti Ima HM, SH. Berdasarkan data DCT di website resmi KPU, caleg Partai NasDem nomor urut 1 dari dapil Jawa Tengah tersebut tertulis berusia 954 tahun. Bila ini benar, maka ini aka menjadi sesuatu rekor yang luar biasa. Caleg Tertua, Manusia Tertua di Dunia.

Namun, menurut Ferry M. Baldan pada akun twitter-nya @ferrymbaldan, bahwa caleg tersebut kelahiran 1959. Jadi, ini kemungkinan salah pengetikan. Siapa yang lalai?













Selengkapnya

Daftar Calon Tetap Anggota DPR RI Pada Pemilu 2014

Tahun 2014 merupakan tahun politik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi hak pilih akan menggunakan suaranya untuk mewakili dirinya duduk di kursi lembaga Legislatif DPR/D maupun untuk memilih pemimpin yaitu Presiden dan wakil Presiden RI.

Kita diharapkan dapat menggunakan hak pilih kita secara cerdas agar kualitas berdemokrasi dan pembangunan semakin baik. Maka penting bagi kita untuk mengenal siapa yang harus kita pilih.

Dibawah ini daftar nama-nama Calon Anggota DPR RI pada Pemilu 2014 silahkan didownload sesuai Daerah Pemilihan masing-masing.

1

Aceh I
Lihat PDF

2

Aceh II Lihat PDF

3

Sumatera Utara I Lihat PDF

4

Sumatera Utara II Lihat PDF

5

Sumatera Utara III Lihat PDF

6

Sumatera Barat I Lihat PDF

7

Sumatera Barat  II Lihat PDF

8

Riau I Lihat PDF

9

Riau II Lihat PDF

10

Jambi Lihat PDF

11

Sumatera Selatan I Lihat PDF

12

Sumatera Selatan II Lihat PDF

13

Bengkulu Lihat PDF

14

Lampung I Lihat PDF

15

Lampung II Lihat PDF

16

Bangka Belitung Lihat PDF

17

Kepulauan Riau Lihat PDF

18

DKI Jakarta I Lihat PDF

19

DKI Jakarta II Lihat PDF

20

DKI Jakarta III Lihat PDF

21

Jawa Barat I Lihat PDF

22

Jawa Barat II Lihat PDF

23

Jawa Barat III Lihat PDF

24

Jawa Barat IV Lihat PDF

25

Jawa Barat V Lihat PDF

26

Jawa Barat VI Lihat PDF

27

Jawa Barat VII Lihat PDF

28

Jawa Barat VIII Lihat PDF

29

Jawa Barat IX Lihat PDF

30

Jawa Barat X Lihat PDF

31

Jawa Barat XI Lihat PDF

32

Jawa Tengah I Lihat PDF

33

Jawa Tengah II Lihat PDF

34

Jawa Tengah III Lihat PDF

35

Jawa Tengah IV Lihat PDF

36

Jawa Tengah V Lihat PDF

37

Jawa Tengah VI Lihat PDF

38

Jawa Tengah VII Lihat PDF

39

Jawa Tengah VIII Lihat PDF

40

Jawa Tengah IX Lihat PDF

41

Jawa Tengah X Lihat PDF

42

DI Yogyakarta Lihat PDF

43

Jawa Timur I Lihat PDF

44

Jawa Timur II Lihat PDF

45

Jawa Timur III Lihat PDF

46

Jawa Timur IV Lihat PDF

47

Jawa Timur V Lihat PDF

48

Jawa Timur VI Lihat PDF

49

Jawa Timur VII Lihat PDF

50

Jawa Timur VIII Lihat PDF

51

Jawa Timur IX Lihat PDF

52

Jawa Timur X Lihat PDF

53

Jawa Timur XI Lihat PDF

54

Banten I Lihat PDF

55

Banten II Lihat PDF

56

Banten III Lihat PDF

57

Bali Lihat PDF

58

Nusa Tenggara Barat Lihat PDF

59

Nusa Tenggara Timur I Lihat PDF

60

Nusa Tenggara Timur II Lihat PDF

61

Kalimantan Barat Lihat PDF

62

Kalimantan Tengah Lihat PDF

63

Kalimantan Selatan I Lihat PDF

64

Kalimantan Selatan II Lihat PDF

65

Kalimantan Timur Lihat PDF

66

Sulawesi Utara Lihat PDF

67

Sulawesi Tengah Lihat PDF

68

Sulawesi Selatan I Lihat PDF

69

Sulawesi Selatan II Lihat PDF

70

Sulawesi Selatan III Lihat PDF

71

Sulawesi Tenggara Lihat PDF

72

Gorontalo Lihat PDF

73

Sulawesi Barat Lihat PDF

74

Maluku Lihat PDF

75

Maluku Utara Lihat PDF

76

Papua Lihat PDF

77

Papua Barat Lihat PDF



Sumber: KPU RI

Selengkapnya

Friday, November 22, 2013

Bukit "Country" : Dari Merk Rokok Menjadi Terkenal

Bukit Country tampak dari kejauhan
Nama bukit "Country" sudah cukup poupler bagi sebagian besar kalangan penggiat alam bebas di Luwuk Kabupaten Banggai. Keindahan panorama padang rumput savana yang bagaikan permadani kuning kehijauan seakan menyatu menyelimuti lekukan-lekukan bukit-bukit yang gersang. 

Bukit "Country" dengan ketinggian kurang lebih 600 Mdpl berada di kawasan Suaka Margasatwa Lombuyan Desa Salodik Kecamatan Luwuk Utara. Desa Salodik ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau empat kurang lebih 1 jam. Untuk sampai ke Bukit "Country" ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih selama 2 jam dengan melewati hutan pinus dan padang ilalang yang tumbuh dalam kawasan suaka margasatwa tersebut. Kadang juga kita bisa bertemu kawanan sapi milik masyarakat yang sengaja dilepaskan untuk mencari makan rumput muda yang banyak tumbuh di kawasan tersebut.

Pemandangan yang indah akan kita dapati selama perjalanan. Dari atas Bukit "Country" kita dapat menikmati pemandangan yang luas. Di sebelah timur kita dapat melihat Gunung Tompotika yang membiru diselimuti awan. Di sebelah utara kita disuguhkan dengan pemandangan laut Teluk Tomini dan tepian pantai Desa Siuna dan Desa Poh serta Tanjung Jepara. Di sebelah barat mata kita akan terhibur dengan hamparan padang savana dan sebagian hutan serta beberapa ladang milik penduduk. Di sebelah selatan kita akan dibuat terkagum-kagum dengan bukit yang ditumbuhi hutan lebat.

Hanya perlu diperhatikan, untuk menikmati keagungan ciptaan Tuhan yang Maha Esa dari atas Bukit "Country" sebaiknya pagi atau sore hari, jangan saat siang hari karena hawa udara sangat panas dan kulit  tubuh kita terbakar apalagi bila musim kemarau.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa bukit itu dinamakan bukit "Country" ? Begini ceritanya. Pada malam perayaan tahun baru dari 2005 ke 2006, beberapa anggota MAPALA UNTIKA Luwuk bermaksud Camping sambil menikmati malam tahun baru. Maka dipilihlah lokasi di Kawasan Suaka Margasatwa Lombuyan. Pada tanggal 31 Desember 2005 sore, Diatmoko sapoetra (Yoko), Imanuel Monggesang (Nuel), Gulbahar Ndilao (Bahar), Topan Sumaila (Opan), Moh. Syahrin Amin (Ain) dan Ramli Abby (Silas) berangkat dari Bonua nu MAPALA UNTIKA menuju lokasi SM. Lombuyan. 

Tiba di lokasi SM. Lombuyan sekitar pukul 17.00 Wita. Kemudian dilakukan pencarian lokasi untuk mendirikan tenda. Cukup lama juga berputar-putar mencari lokasi tempat perkemahan. Bahar dan Nuel menelusuri perbukitan. Akhirnya Bahar menemukan puncak bukit yang terbuka dan dapat melihat seluruh pemandangan kawasan SM. Lombuyan. Bahar pun memanggil Nuel untuk bersama-sama menikmati pemandangan dari atas bukit tersebut sambil tentunya foto-foto dengan kamera HP. Di bawah bukit, Yoko dan kawan-kawan memanggil untuk segera turun, berhubung waktu sudah malam sehingga diputuskan untuk mendirikan tenda di punggungan bukit yang jaraknya sekitar 200 M dari Bukit Country. 

Kebetulan lokasi tenda dekat sumber air mirip selokan namun versi anak pecinta alam layak dikonsumsi. Sambil memasak menu makan malam Bahar menceritakan pemandangan diatas bukit tadi. Sehingga disepakati untuk menikmati malam pergantian tahun diatas bukit. Sehabis makan malam, forum curhat pun di mulai. Masing-masing menceritakan kisah hidupnya khususnya percintaan secara bergantian dan ditanggapi oleh yang lain. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 23.00 Wita.Semuanya bergegas mendaki puncak bukit dengan membawa perlengkapan masak, air minum dan snack. Perlengkapan yang lain ditinggalkan dalam tenda.

Tiba diatas bukit, semuanya tercengang dengan keindahan pemandangan malam hari. Ribuan bintang dan sebagian sinar bulan menerangi seluruh kawasan, apalagi dari kejauhan tampak kelap-kelip lampu di Desa Poh dengan musik irama dero samar-samar terdengar. Beberapa teman memainkan lampu senter untuk sekedar bercanda. 

Sambil menikmati kopi dan asap rokok, canda tawa pun mulai dilantunkan. Pada pukul 00.00 Wita semuanya hening dan berdoa masing-masing. Berbagai harapan di tahun 2006 disampaikan dalam hati. Setelah itu, walaupun cuaca semakin dingin namun canda tawa pun dilanjutkan sambil menunggu sinar matahari pagi. Tiba-tiba Bahar menyeletuk "ini tempat macam bau tai sapi". Setelah di cek memang benar dimana-mana ada tai sapi yang sudah mengering. Semuanya pun tertawa. Tiba-tiba Nuel yang dikenal sangat jarang bicara pun menyeletuk "Ini tempat sudah ada padang dan penuh tai sapi kering, mirip di film cowboy yang country-country" Semua kembali tertawa dan berkata "itu rokokmu juga merk Country". Akhirnya semua sepakat menamakan bukit itu dengan nama "Bukit Country".

Matahari pun mulai mekar diufuk timur, Pagi 1 Januari 2006. Lagu grup band Power Slaves dengan judul "Jika Kau Mengerti" dari HP milik Nuel pun terdengar diantara kencangnya hembusan angin pagi. Begitulah ceritanya tentang asal mula penamaan Bukit Country yang terkenal sampai sekarang.






Selengkapnya

Monday, November 18, 2013

Pendakian Gunung Tompotika

Gunung Tompotika tampak dari Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah | Foto: Ananto Praticno
Gunung bagi seorang penggiat alam bebas atau pendaki merupakan sesuatu yang membuat kaki terasa gatal untuk terus menjejakkan langkah menelusuri lekukan permukaan tanahnya, menelusuri sungai dan menerobos hutan untuk menggapai puncak-puncaknya. Tak peduli tubuh tergores duri, di gigit serangga, diselimuti kabut/salju, terbakar matahari dan bahkan terkubur tanah.

Kabupaten Banggai sebagai kabupaten di ujung timur Sulawesi juga memiliki beberapa gunung, diantaranya Gunung Tompotika 1530 Mdpl, Gunung Hek 2565 Mdpl dan Gunung Julutumpu 2230 Mdpl. Ketiga gunung tersebut termasuk dalam kategori tidak aktif. 

Gunung Tompotika walaupun ketinggiannya lebih rendah bila dibandingkan dengan dua gunung yang lain, namun gunung ini sangat dikenal oleh masyarakat kabupaten Banggai. Hal ini terkait dengan sejarah masa lampau masyarakat Banggai, Balantak dan Saluan. Di kalangan pendaki gunung terutama pencinta alam, gunung ini paling sering menjadi lokasi pendakian untuk berbagai kegiatan seperti ekspedisi, peringatan Hari Kemerdekaan maupun kegiatan pendidikan bagi anggota pencinta alam.

Jalur pendakian yang sering dilewati yaitu melalui Dusun Trans Tanah Merah Desa Sampaka Kecamatan Bualemo. Tranportasi menuju lokasi awal pendakian ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam dengan kendaraan angkutan umum roda empat maupun roda dua dari Luwuk ibukota Kabupaten Banggai.

Dari Dusun Trans Tanah Merah, pendakian dilakukan melewati kebun milik penduduk sekitar kemudian melewati hutan dan menyeberangi beberapa sungai dan tiba di lokasi Camp Damar dengan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dan kondisi medan bervariasi. Lokasi ini sering dijadikan tempat istirahat dan bermalam bagi para pendaki sebelum melanjutkan ke lokasi camp berikutnya pada esok hari dan disini kita harus mengisi air secukupnya untuk persediaan di lokasi camp berikutnya.

Perjalanan selanjutnya menuju Camp Pintu Angin dapat ditempuh kurang lebih 7 jam dengan kondisi jalur tanjakan dan melewati hutan pinus. Hutan pinus dijalur ini sering terbakar. Hembusan angin dingin di lokasi camp ini cukup kencang sehingga para pendaki menamakannya Camp Pintu Angin. Disini para pendaki sering bermalam sambil menikmati pemandangan Desa Bualemo dan sekitarnya.

Lokasi Pintu Angin Gunung Tompotika | Foto: Galank

Pada esok harinya, pendakian menuju Puncak Seasea yang merupakan puncak tertinggi di Gunung Tompotika. Para pendaki umumnya hanya membawa perlengkapan yang perlu serta kebutuhan makan dan minum, perlengkapan lainnya disimpan didalam tenda. Waktu tempuh dari lokasi Camp Pintu Angin menuju Puncak Seasea kurang lebih 2 jam dengan kondisi medan variasi dan melewati bebatuan dan pohon-pohon khas hutan tropis. Puncak Seasea tertutup pepohonan dalam balutan lumut. Perjalanan dapat dilanjutkan ke Puncak Tompotika dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam.

Setelah puas menikmati keindahan puncak Gunung Tompotika dan mengabadikan dalam bentu foto, para pendaki kembali turun menuju lokasi Camp Pintu Angin.  Biasanya setelah makan dan packing peralatan, perjalanan pulang menuju Dusun Trans Merah dimulai. Waktu tempuh perjalanan pulang ini kurang lebih 9 jam. Tiba kembali di dusun ini, para pendaki bisa bermalam dan esoknya dapat melanjutkan perjalanan pulang ke Luwuk.

Semoga bermanfaat, Salam Lestari!!! 


 

Selengkapnya

Friday, November 1, 2013

Jokowi Anak Mahasiswa Pecinta Alam

Joko Widodo (Jokowi) berpenampilan metal sudah banyak yang tahu. Tapi bagaimana jika Jokowi muda berpose di atas gunung, lengkap dengan sarung tangan dan teropong sambil membentangkan bendera Mahasiswa Pecinta Alam ( Mapala )?

Itulah foto jadoel Jokowi yang diambil tahun 1983 silam. "Iya itu saya," ujar Jokowi saat makan siang di rumah makan Bakul Tukul, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (31/10/2013).

Dalam foto hitam putih tersebut, Jokowi tampak mengenakan kaos lengan pendek, topi, dan sarung tangan. Dengan teropong yang dikalungkan di leher, Jokowi muda membentangkan bendera Mapala.

Jokowi mengatakan bahwa foto itu diambil saat dia bersama 11 temannya dari Yogyakarta naik Gunung Kerinci di Sumatera. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini lalu bercerita dengan antusias tentang hobinya naik gunung saat masih mahasiswa.

"Banyak (gunung yang sudah didaki). Yang paling berkesan ya Gunung Kerinci itu karena tracknya susah," ceritanya.

Perjalanan Jokowi saat itu ditempuh dengan menggunakan bus dari Yogyakarta ke Padang. Kemudian dari Padang ke Gunung Kerinci memakan waktu selama satu hari.

"Kerinci itu perjalanannya dua hari. Teman-teman saya semuanya gede-gede, saya sendiri yang kecil tapi saya duluan yang sampai," kata Jokowi sambil tersenyum.

Pria 52 tahun itu lupa kapan terakhir mendaki gunung. Namun, saat masih muda Jokowi mengaku bisa mendaki gunung setiap minggunya.
sumber : detik.com
 

Selengkapnya