Thursday, April 10, 2014

Pesta Pileg di Desa Indang Sari Kecamatan Luwuk Timur



Suasana Pemilu di TPS 1 Desa Indang Sari  | dok: pribadi
Pesta demokrasi di Indonesia yang dikenal dengan Pemilihan Umum tahun 2014 dilaksanakan dalam dua pemilihan. Pertama yaitu memilih Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014, kedua Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 9 Juli 2014. 

Pelaksanaan Pemilu Anggota Legislatif (Pileg) pada hari Rabu, 9 April 2014, sebagai warga negara yang baik saya pun pulang kampung untuk menggunakan hak politik memilih wakil rakyat. Desa Indang Sari merupakan kampung halaman saya terletak di Kecamatan Luwuk Timur yang berjarak kurang lebih 30 KM dari Luwuk tempat saya bekerja. Kali ini saya pulang bersama kakak saya yang juga sama-sama pulang untuk memilih.

Berangkat dari Luwuk pukul 17.30 Wita dengan menumpang mobil dan tiba di kampung Indang Sari jam 18.30 Wita. Tiba di rumah di sambut senyum ayah dengan rambut putihnya  dan senyum bahagia ibu yang masih sakit. Menikmati suasana Pemilu di kampung memang terasa beda. Setelah makan malam, saya pun duduk di depan televisi menonton berita di salah satu stasiun tv tentang persiapan Pemilu. 

Tidak lama kemudian teman-teman di kampung datang untuk mengobrol seputaran Pemilu. Pembicaraan santai seputaran Pileg pun mengalir dari analisa caleg sampai "serangan fajar". Sekali-kali juga saya membalas beberapa sms/bbm dari teman-teman yang menanyakan juga seputar Pileg. Tak terasa percakapan dengan teman-teman sampai larut malam walau tanpa kesimpulan, hanya saya berpesan agar mereka bijak dalam memilih dengan memperhatikan jejak rekam setiap calon. Jam 02.30 Wita percakapan pun bubar dan saya pun menonton film di televisi menunggu mata mengantuk. Jam 04.00 Wita mata mulai mengantuk, saya pun menuju tempat tidur untuk bermimpi tentang Indonesia.

Warga melihat daftar Caleg | dok: pribadi
Rabu, 9 April 2014, saya dibangun ibu tercinta yang ternyata baru pulang dari Tempat Pemungutan Suara (TPS). Jam menunjukkan pukul 09.15 Wita. Sesudah mandi, saya duduk menikmati kopi sambil menghisap rokok dan memperhatikan beberapa warga yang hilir mudik menuju TPS. 

Saya bersama Sekdes Indang Sari  | dok: pribadi
Setelah menikmati kopi saya pun berjalan menuju TPS 1 yang berjarak kurang lebih 300 M dari rumah, tepatnya di gedung SDN Indang Sari. Tiba di TPS ternyata masih lama antrian, maklum nomor urut saya 206 berdasarkan surat panggilan. Sambil menunggu giliran, saya pun bercakap-cakap dengan warga lainnya yang juga sedang menunggu giliran dan juga mengambil gambar dengan kamera yang kebetulan saya bawa.

Salah satu petugas keamanan TPS  | dok: pribadi
Tepat pukul 11. 30 Wita saya pun dipanggil untuk memasuki ruangan TPS 1 yang merupakan ruang kelas. Setelah mencoblos saya pun keluar dan kembali bercakap-cakap dengan warga. Banyak hal yang disampaikan mereka tentang pelaksanaan Pemilu kali ini. Ada yang bercerita tentang nama-nama caleg yang tak dikenalnya, serangan fajar, caleg yang dipilihnya, bahkan tentang calon Presiden kedepan. 

Petugas KPPS  | dok: pribadi
Pada kesempatan itu juga saya mengunjungi TPS 2, kebetulan berdekatan jaraknya dengan TPS 1 yang juga memfaatkan salah satu ruang kelas di gedung SDN Indang Sari. Setelah mengambil gambar saya pun diajak Sekdes Indang Sari  untuk makan siang di rumahnya. Katanya istrinya membuat onyop (makanan yang terbuat dari sagu/papeda). Makanan kesukaan saya. Kami pun berjalan menuju rumahnya. Tiba dirumahnya kami pun langsung menuju meja makan dengan onyop yang sudah tersedia. Pesta onyop pun di mulai.

Antrian memilih  | dok: pribadi

Sesudah menikmati onyop, obrolan berlanjut di teras rumah Sekdes sambil menunggu pukul 13.00 Wita untuk melihat perhitungan suara di TPS. Asyik mengobrol tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 Wita, saya bersama Sekdes pun menuju TPS untuk melihat perhitungan suara dan ternyata baru di mulai.
Bilik suara  | dok:pribadi

Petugas KPPS di TPS 1 mulai melakukan rapat perhitungan suara dihadiri para saksi dari Parpol masing-masing. Di mulai dengan pembukaan kotak suara DPR. Anggota KPPS mengambil lembar surat suara dan memeriksa lubang coblosan dan diperlihatkan kepada para saksi setelah itu dinyataka sah dan petugas KPPS yang lain mencatat perolehan suara di lembaran yang ditempelkan di dinding. Proses itu berlanjut untuk kotak suara DPD, DPRD Provinsi sampai malam hari.

KPPS memeriksa lubang coblosan | dok: pribadi
Tiba pada perhitungan suara untuk DPRD Kabupaten, sebagian warga masyarakat yang hadir mulai antusias, maklum persaingan Caleg DPRD Kabupaten terasa lebih seru dan juga masyarakat masing-masing memiliki pilihan caleg jagoannya. Setiap petugas KPPS menyebut nama partai dan caleg, warga pun berteriak. Namun ada insiden yang sempat mewarnai proses perhitungan suara, tiba-tiba lampu padam. Petugas KPPS pun langsung bersiaga menjaga kotak suara dan petugas keamanan TPS mencari pinjam mesin genset dan lampu petromaks. Akhirnya setelah 30 menit kemudian perhitungan suara kembali dilanjutkan. Setelah perhitungan selesai beberapa warga berteriak gembira karena jagoannya memperoleh suara terbanyak, ada juga yang menunjukan ekspresi sedih, mungkin jagoannya memperoleh suara sedikit.



Saya pun kembali ke rumah dan makan malam. Tak lama kemudian kakak saya pun datang untuk menjemput saya kembali ke Luwuk. Setelah berpamitan kepada ayah dan ibu, saya pun kembali ke Luwuk. Pemilu yang menyenangkan. *IM



Proses perhitungan suara  | dok: pribadi


 
Perhitungan suara  | dok: pribadi


Perhitungan suara di TPS 2  | dok: pribadi









Selengkapnya

Tuesday, April 8, 2014

Pulang Kampung untuk Indonesia Lima Tahun Kedepan

Tadi pagi aku bertemu rekanku, sambil menikmati kopi kami pun ngobrol ngalor ngidul dari persoalan hobi, organisasi, politik, situasi daerah, nasional bahkan pada prediski Pemilu yang akan digelar besok 9 April 2014. Perdebatan hangat tentang peluang partai politik dan Capres serta Caleg yang akan duduk nantinya di DPR/D dan DPD pun menjadi hangat denga argumen masing-masing.

Setelah puas berdebat, aku pun berkata,"kamu besok memilih dimana?". Rekanku pun menjawab, "nah itu dia masalahnya, aku harus memilih di kampung, ongkos pulang kampung itu Rp. 50.000, kalau pergi=pulang ya Rp. 100.000, ditambah biaya makan dan rokok dijalan Rp. 30.000, pergi-pulang ya  Rp. 60.000, jadi harus butuh Rp. 160.000 untuk sekedar pulang memilih, makanya kalau aku pikir golput sajalah, jadi pengamat saja, menikmati pesta demokrasi ini".

Wah, aku pun berpikir, benar juga ya, kalau dihitung secara ekonomis jelas rugi keluarkan ongkos ratusan ribu hanya untuk memilih orang yang ketika duduk malah tidak pernah memeberikan perhatian bagi rakyatnya. Mungkin saja bila ada caleg yang bermurah hati memberikan ongkos pulang agar rekanku ini bisa menggunakan hak pilihnya. Aku pun melanjutkan pembicaraan, "kan bisa gunakan KTP dengan surat keterangan dari desa asal". Rekanku pun menjawab, "ya sama saja, aku harus pulang kampung meminta surat keterangan dari KPPS'.

Lama kami terdiam memikirkan soal yang satu ini. Tiba-tiba entah dapat wangsit dari mana, aku pun berkata, "sobat, mungkin kita perlu mengenang sejarah perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa raga, harta dan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mereka berani berkorban hanya untuk Indonesia yang bebas merdeka dari penjajah, kita sekarang ini hanya diminta menggunakan hak politik untuk memilih pemimpin yang akan memimpin bangsa Indonesia supaya lebih baik dan sejahtera. Masa' sih hanya berkorban ratusan ribu saja kita masih pikir-pikir untuk kebaikan bangsa ini lima tahun kedepan ya?"

Rekanku pun terdeiam, mungkin merenungi kata-kataku tadi yang seperti Bung Tomo sedang membakar semangat Arek-arek Surabaya untuk bertempur melawan penjajah. Setelah lama terdiam, rekanku pun berkata, " iya ya, masak hanya berkorban ratusan ribu untuk kebaikan bangsa kita aku masih berpikir seribu kali ya? Hmmm,,, ok aku harus pulang siang ini, hak pilihku harus digunakan untuk memilih caleg yang baik, ok sobat, saya pamit dulu, mau siap-siap pulang kampung, sampai ketemu lusa ya"
Aku pun  hanya tersenyum dan berkata, "ok siip, hati-hati dijalan ya, salam buat keluarga di kampung".

Fenomena diatas banyak terjadi dikalangan pelajar/mahasiswa/pekerja yang berasal dari desa/kampung untuk menempuh pendidikan atau bekerja di kota-kota. Kaum golput kebanyakan dari kalangan ini, karena biaya, mereka memilih untuk tidak pulang menggunakan hak pilihnya dan tidak mau repot mengurus hal-hal administratif lainnya agar bisa memilih diluar Daerah pemilihannya, apalagi libur hanya sehari.

Bagi rekan-rekan yang sementara pulang kampung untuk memilih hati-hati dijalan, semoga sampai di kampung dengan selamat dan berikan pemahaman politik yang baik kepada masyarakat. bagi yang Caleg selamat menantikan keputusan rakyat.

Aku juga harus pulang, sampai bertemu lagi. Pulang kampung untuk Indonesia yang lebih baik.

Selengkapnya

Daftar Anggota DPR RI Yang Sering Bolos

Menjelang Pemilihan Umum Anggota DPR/DPD/DPRD pada tanggal 9 April 2014, Badan Kehormatan (BK) Dewan Perwakilan Rakyat Republik akhirnya membuka data absensi anggota DPR sepanjang tahun 2012. Keputusan BK ini diambil setelah banyaknya desakan publik yang menuntut transparansi kinerja para wakil rakyat yang sebagian besar akan kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada tahun 2014 mendatang.

Di dalam data absensi tahun 2012, terdapat empat kali masa sidang. Di dalam daftar tersebut, tercantum beberapa politisi ternama, seperti Ketua DPR RI Marzuki Alie, Wakil Ketua DPR Pramono Anung dan Priyo Budi Santoso dan Ketua MPR Alm. Taufiq Kiemas, dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan Puan Maharani, Fahri Hamzah (PKS), Sutan Batugana (Demokrat), dll.

Berikut rincian daftar anggota dewan yang memiliki tingkat kehadiran di bawah 50 persen dalam rapat-rapat paripurna. 

Partai Keadilan Sejahtera
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
1. Anis Matta  20 persen
2. Luthfi Hasan Ishaaq 40 persen
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)1. Anis Matta 40 persen
2. Mahfudz Siddiq 30 persen
3. Nurhasan Zaidi  30 persen
4. Nabiel Al Musawa 40 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Anis Matta 44 persen
2. Chairul Anwar 22 persen
3. Kemal Aziz Stamboel 44 persen
4. Luthfi Hasan Ishaaq 22 persen
5. Aboe Bakar 44 persen
6. Akbar Zulfakar 44 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Muhammad Idris Luthfi 25 persen
2. Ma'mur Hasanuddin 25 persen
3. Nurhasan Zaidi 25 persen
4. Luthfi Hasan Ishaaq 25 persen
5. H. Rofi Munawar 0 persen
6. Nabiel Al Musawa 25 persen
7. Fahri Hamzah 0 persen

Partai Demokrat
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
1. As'ad Syam 10 persen
2. Jefirstson R. Riwu Kore 40 persen
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
1. Marzuki Alie 20 persen
2. Mirwan Amir 30 persen
3. Syofwatillah Mohzaib 20 persen
4. Milton Pakpahan 40 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Marzuki Alie 44 persen
2. Nova Iriansyah 44 persen
3. Mirwan Amir 44 persen
4. Dalimi Abdullah DT Indokayo 11 persen
5. Efi Susilowati 44 persen
6. KH. Yunus Roichan 44 persen
7. Achmad Syafi'I 33 persen
8. A. Reza Ali 44 persen
9. Ahnad Nizar Shihab 44 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Sutan Bhatoegana 25 persen
2. Jafar Nainggolan 25 persen
3. Darizal Basir 25 persen
4. Zulkifli Anwar 25 persen
5. Tri Yulianto 25 persen
6. Herman Khaeron 25 persen
7. Subyakto 25 persen
9. Rosyid Hidayat 25 persen
10. I Wayan Sugiana 25 persen
11. Yusran Aspar 25 persen
12. A Reza Ali 25 persen

PDI Perjuangan
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
1. Pramono Anung 40 persen
2. Taufiq Kiemas 0 persen
3. Panda Nababan 0 persen
4. Soewarno 0 persen
5. Sugianto 40 persen
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
1. Pramono Anung 20 persen
2. Arif Budimanta 40 persen
3.  Helmy Fauzi 30 persen
4. Syarif Bastaman 10 persen
5. Imam Suroso 40 persen
6. Rukmini Buchori 40 persen
7. Nursuhud 40 persen
8. Soewarno 10 persen
9. Karolin Margareth Natasa 40 persen
10. Asdi Narang 40 persen
11. Rachmat Hidayat 40 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Pramono anung 44 persen
2. Taufiq kiemas 11 persen
3. Irmadi lubis 33 persen
4. Sukur nababan 11 persen
5. Syarif bastaman 33 persen
6. Puan maharani 33 persen
7.  Nusyirwan Soejono 33 persen
8. Inna Ammania 44 persen
9. Guruh Soekarnoputra 22 persen
10. Nyoman Dhamantra 44 persen
11. Sugianto 22 persen
12. Rachmat Hidayat 33 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Taufiq Kiemas 0 persen
2. Ian siagian 25 persen
3. Erwin Moeslimin Singajuru 25 persen 4. Sudin 25 persen
5. Ismayatun 25 persen
6. Irvansyah 25 persen
7. Rieke Dyah Pithaloka 0 persen
8. Arif Budimanta 25 persen
9. Sukur nababan 25 persen
10. Syarif Bastaman 0 persen
11. Daryatmo Mardiyanto 25 persen
12. Puan maharani 25 persen
13. Guruh Soekrnoputra 25 persen
14. Nursuhud 25 persen
15. I Made Urip 25 persen
16. I Gusti Agung Rai Wijaya 25 persen
17. Rachmat Hidayat 25 persen
18. Vanda Sarundajang 25 persen

Partai Golkar
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
1. Hajriyanto Y Thohari 30 persen
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
1. Priyo budi santoso 10 persen
2. Hajriyanto Y Thohari 10 persen
3. Nasruddin 40 persen
4. Hayani Isman 40 persen
5. Gde Sumarjaya Linggih 40 persen
6. Setya Novanto 40 persen
7. Irene Manibuy 30 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Priyo Budi Santoso 20 persen
2. Hajriyanto Y Thohari 22 persen
3. Zulkarnaen Djabar 0 persen
4. Nusron Wahid 44 persen
5. Ryani Soedirman 22 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Hajriyanto Y Thohari 25 persen
2. Chairuman Harahap 0 persen
3. Poempida Hidayatulloh 25 persen
4. Azwie Dainy Tara 25 persen
5. Adi Sukemi 25 persen
6. Harry Azhar Azis 25 persen
7. Tantowi Yahya 25 persen
8. Zulkarnaen Djabar 25 persen
9. Tetty Kadi Bawono 25 persen
10. Zainudin Amali 25 persen
11. Markum Singodimejo 25 persen
12. Gusti Iskandar SA 25 persen
13. Edison betaubun 25 persen
14. Yorrys Raweyai 25 persen
15. Robert Joppy Kardinal 25 persen

Partai Amanat Nasional
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
1.  Taufik Kurniawan 40 persen
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
1. Taufik Kurniawan 10 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Taufik Kurniawan 33 persen
2. H. Fauzan Syai'e 44 persen
3. Andi Anzhar Cakra Wijaya 44 persen
4. Mardiana Indraswati 22 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Ibrahim Sakty Batubara 25 persen
2. Alimin Abdullah 25 persen
3. Viva Yoga Mauladi 25 persen
4. Sukiman 25 persen
5. Muhammad Syafrudin 25 persen
6. Taufan Tiro 25 persen
7. Yasti Soepredjo Mokoagow 25 persen
8. Jamaluddin Jafar 25 persen

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
Kosong (tidak ada yang di bawah 50 persen)
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
Kosong (tidak ada yang di bawah 50 persen)
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Chusnunia Chalim 44 persen
2. Gitalis Dwinatarina 11 persen
3. Alamuddin Dimyati Rois 22 persen
4. Ach. Fadil Muzakki Syah 11 persen
5. Anna Muawannah 44 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Gitalis Dwinatarina 25 persen
2. Alamuddin Dimyati Rois 25 persen
3. Ach. Fadil Muzakki Syah 25 persen
4. Ibnu Multazam 25 persen
5. Mirati Dewaningsih 25 persen
6. Peggi Patricia Pattipi 25 persen

Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)

1. Lukman Hakim Saifudin 30 persen
Masa Sidang IV, Tahun sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
Kosong (tidak ada yang di bawah 50 persen)
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Lukman Hakim Saifudin  11 persen
2. Irgan Chairul Mahfiz 44 persen
3. Reni Marlinawati 44 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Wan Abu Bakar 25 persen
2. Achmad Farial 25 persen
3. Wardatul Asriah 25 persen
4. Endang Sukandar 25 persen
5. Asep Ahmad Maoshul Affandy 25 persen
6. M Romahurmuzy 25 persen
7. Syaifullah Tamliha 25 persen
8. Nanang Sulaeman 25 persen
9. Tommy Adrian Firman 25 persen

Partai Gerindra
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)

1. Widjono Hardjanto 0 persen
2. Desmond 20 persen
Masa Sidang IV, Tahun Sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
1. Nur Iswanto 40 persen
2. Widjono Hardjanto 0 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. H. Mulyadi 22 persen
2. Abdul Wachid 44 persen
3. Sumarjati Arjoso 44 persen
4. Dohir Farisi 33 persen
5. Desmon Junaidi (Hadir) 44 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Puti Sari 25 persen
2. Abdul Wachid 25 persen

Partai Hanura
Masa Sidang III, Tahun 2011-2012 (9 Januari-12 April 2012)
Kosong (tidak ada yang di bawah 50 persen)
Masa Sidang IV, Tahun Sidang 2011-2012 (14 Mei-13 Juli 2012)
1. M. Ali Kastella 40 persen
Masa Sidang I, Tahun Sidang 2012-2013 (16 Agustus-25 Oktober 2012)
1. Erik Satya wardana 44 persen
Masa Sidang II, Tahun Sidang 2012-2013 (19 November-14 Desember 2012)
1. Erik Satya wardana 44 persen

 sumber: Tribunnews.com

Selengkapnya

Friday, March 28, 2014

Jokowi: Menanti Keikhlasan Warga DKI Jakarta untuk Indonesia 5-10 Tahun ke Depan


Capres Jokowi  | sumber: mydesain

Sosok Joko Widodo memang sangat fenomenal. Sejak beliau bersama Ahok memenangkan pertarungan Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 2012 walaupun keduanya bukan berasal dari DKI Jakarta tetapi mampu merebut simpati warga masyarakat DKI Jakarta. Nama Jokowi begitu beliau biasanya dipanggil bersama Ahok menjadi populer dengan gebrakannya selama setahun lebih memimpin warga DKI Jakarta.

Prestasi duet Jokowi-Ahok banyak menuai pujian dari berbagai kalangan dan juga menjadi sosok inspiratif bagi masyarakat Indonesia dengan gaya yang sederhana, apa adanya, jujur, polos, ceplas ceplos, ditambah blusukannya. Keduanya bekerja keras untuk mewujudkan harapan masyarakat DKI Jakarta, walaupun belum semuanya terpenuhi, tapi setidaknya dalam jangka waktu setahun lebih keduanya sudah menunjukkan niat baik untuk membangun Jakarta. Baca Prestasi Jokowi - Ahok

Perjalanan karir politik dan kepemimpinan Jokowi sejak menjadi Walikota Solo tahun 2005 sampai menjadi Gubernur DKI Jakarta terbilang cukup gemilang, apalagi saat ini beliau dicalonkan (bukan mencalonkan) oleh partainya menjadi Calon Presiden Republik Indonesia. Karir politiknya yang dibangun dengan apa adanya tidak membuatnya menjadi orang yang sombong walaupun penghargaan terhadap prestasi dan kinerjanya telah diakui nasional dan internasional.

Karakter kepemimpinan Jokowi ini pun menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia, sehingga dengan sukarela dari mulut ke mulut bercerita, jari ke jari mengetik tentangnya. Tak heran jika Jokowi menjadi fenomena dan idola. Jokowi pun bukan lagi milik warga DKI Jakarta tetapi telah menjadi milik Indonesia.

Ketika Megawati Ketua Umum PDIP legowo mengeluarkan keputusan untuk mencalonkan Jokowi menjadi Calon Presiden RI Periode 2014-2019 sontak memberi harapan baru bagi rakyat Indonesia yang merindukan sosok pemimpin yang sederhana, santun, tegas, jujur dan merakyat. Dukungan pun mengalir dari berbagai kalangan. Namun, harus disadari warga DKI Jakarta tentu belum puas menikmati kepemimpinan Gubernurnya. Aksi penolakan sebagian warga Jakarta menunjukkan ketidakrelaan mereka terhadap langkah politik Jokowi termasuk nantinya Ahok menjadi Gubernur.

Disinilah dilema warga DKI Jakarta. Antara merelakan Jokowi menjadi milik Indonesia atau mengharuskan Jokowi menunaikan tanggungjawabnya sampai 2017. Merelakan Jokowi melangkah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Presiden adalah bukan hal yang mudah dan pasti sesuatu yang berat bagi warga Jakarta yang telah terlanjur mencintainya. Mari kita pahami beban warga Jakarta, bila nanti Jokowi terpilih menjadi Presiden dan kemudian tidak amanah atau Jokowi tidak mampu mengurus Indonesia maka warga Jakarta juga akan merasakan keresahan itu. Beban ini setidaknya juga pernah dirasakan oleh warga Kota Solo, namun dijawab Jokowi dengan kinerjanya yang cukup baik. Beban ini yang harus dijawab oleh Jokowi kelak bila beliau dipercayakan Rakyat Indonesia menjadi Presiden.

Merelakan disini bukan hanya soal Jokowi. Tetapi berarti juga kesiapan warga Jakarta dipimpin oleh Ahok. Ahok dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hal yang sungguh harus direnungkan, dipertimbangkan dan diikhlaskan secara mendalam oleh warga Jakarta.

Satu pesan saya buat warga DKI Jakarta bahwa keikhlasan warga DKI Jakarta dalam merelakan Gubernurnya menjadi Presiden Republik Indonesia adalah bukti warga Jakarta mencintai Indonesia.

Kami warga Negara Indonesia diluar DKI Jakarta menanti keikhlasan saudara/saudari kami untuk kebaikan Indonesia.


Selengkapnya

Thursday, March 27, 2014

Rakyat Bodoh Politik, Salah Siapa?

Coblos siapa? | sumber: mydesain
Pada musim kampanye seperti sekarang ini, begitu sering kita dengar kalimat-kalimat, gunakanlah hak pilih anda dengan baik, jadilah pemilih yang cerdas, jangan memilih karena duit, Jangan golput dan lain-lain. Dalam hati, aku pun timbul pertanyaan apa benar rakyat Indonesia dari Pemilu ke Pemilu yang digelar sejak 1955 sampai sekarang belum cerdas dalam memilih calon wakilnya untuk duduk di DPR/DPRD? Apakah tidak ada pendidikan politik bagi rakyat Indonesia sehingga masih perlu ada himbauan-himbauan seperti itu?

Menurut Undang-undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik bahwa, partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. Sedangkan pendidikan politik adalah pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban dan tanggungjawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Proses rekruitmen anggota partai politik pun diatur melalui Pasal 29 (1) Partai Politik melakukan rekrutmen terhadap warga negara Indonesia untuk menjadi: a. anggota Partai Politik; b. bakal calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; c. bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah; dan d. bakal calon Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam hal pendidikan politik bagi anggotanya maupun masyarakat, partai politik diberikan bantuan keuangan melalui APBN/APBD sebagaimana ditegaskan dalam pasal 34 (3a) Bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diprioritaskan untuk melaksanakan pendidikan politik bagi anggota Partai Politik dan masyarakat. (3b) Pendidikan Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3a) berkaitan dengan kegiatan: a. pendalaman mengenai empat pilar berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. pemahaman mengenai hak dan kewajiban warga negara Indonesia dalam membangun etika dan budaya politik; dan c. pengkaderan anggota Partai Politik secara berjenjang dan berkelanjutan.

Berangkat dari ketentuan UU diatas, maka kita dapat mengetahui peran partai politik untuk mencerdaskan rakyat sebagai pemilihnya, namun peran ini tidak pernah dilakukan oleh setiap partai politik. Hal ini mungkin disebabkan antara lain:
a. Proses rekruitmen anggota partai yang tidak berjalan dan bahkan mekanismenya juga tidak dilakukan, yang ada hanya klaim-klaim keanggotaan;
b. Bantuan keuangan melalui APBN/ABPD dipergunakan untuk operasional pengurus partai politik, padahal bantuan tersebut berasal dari pajak rakyat yang harus diprioritaskan untuk memberikan pendidikan politik bagi rakyat.

Dengan demikian, jangan pernah berharap, rakyat kita cerdas dalam berpolitik, cerdas dalam menggunakan hak pilihnya, bila dana yang dititipkannya melalui partai politik untuk mencerdaskannya juga di korupsi.  Maka jangan heran bila rakyat kemudian menuntut uang kecerdasannya dikembalikan pada saat kampanye dengan memilih bila dibayar.


Selengkapnya

Akhirnya, Capres Boneka Terkuak!

13956564741221023734
Capres dan Boneka | sumber: article.wn.com



Setelah sekian lama kita dibuat bingung dengan adanya beberapa isu tentang Calon Presiden Boneka, akhirnya beberapa hari belakangan ini muncul video seorang Capres Boneka. Hobi bermain boneka ini perlu di beri apresiasi yang tinggi karena dibalik boneka menyimpan sejuta tanda tanya dan nilai yang tak bisa diukur dengan alat ukur apapun.

Kegemaran bermain boneka biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Boneka biasa dijadikan teman tidur, dipeluk, digendong, ditimang-timang bahkan diajak curhat tentang segala perasaaan yang dirasakan oleh pemilik boneka. Boneka sangat berperan dalam tumbuh kembangnya seorang anak.

Kembali pada capres boneka, bisa dipastikan capres ini memiliki sensitifitas terhadap perempuan. Beliau dipastikan memiliki jiwa yang sangat penyayang hanya jangan disalahgunakan untuk menyayangi boneka lainnya. Apalagi sampai menyayangi yang memegang boneka, bisa konflik dalam rumah tangga. Klarifikasi dari pihak capres terhadap boneka-boneka ini sedikitnya menjawab tanda tanya kita apa yang terjadi dibalik boneka tersebut.

Namun, kisah boneka ini telah terlanjur dalam pelukan pikiran masyarakat Indonesia yang mudah terprovokasi dengan hal-hal yang sepele apalagi menyangkut artis pemilik boneka. Kisah liburan yang biasa saja bagi orang kaya menjadi luar biasa di masa kampanye sekarang ini, sehingga boneka ini sedikitnya mengurang empati orang terhadap Capres boneka.

Mungkin hanya ada satu cara untuk mewajarkan boneka ini agar capres boneka tidak terkesan negatif, yaitu dengan memasyarakatkan boneka. Bagikan boneka kepada seluruh masyarakat Indonesia maka boneka menjadi hal yang biasa dan tagline Capres Boneka menjadi populer.

Jangan salahkan boneka, karena boneka itu tak tahu apa-apa, apalagi bentuk boneka itu adalah beruang. Mari kita sayangi hewan khususnya beruang yang mulai punah di dunia.


Selengkapnya

Wednesday, March 26, 2014

Yunita Idol tereliminasi, Ashanty istri Anang jadi sasaran kekecewaan Masyarakat Luwuk

13958297151933378380
Ashanty | sumber: foto TL


Selasa, 25 Maret 2014, Ashanty penyanyi asal ibu kota tiba di Luwuk Kab. Banggai, Sulawesi Tengah. Penyanyi yang cantik jelita istri dari Anang Hermansyah ini datang di Luwuk untuk menghibur masyarakat Luwuk dalam rangka kampanye salah satu partai politik yang diadakan di Lapangan Sepakbola Persibal Luwuk. Kehadiran Ashanty di Luwuk disambut meriah oleh para penggemarnya dan pengurus partai politik.

Namun, ada yang menarik dibalik kehadiran Ashanty tersebut.
Luwuk ibukota Kab. Banggai yang diketahui sebagai daerah kelahiran Yunita Idol yang pada jumat malam lalu tereliminasi dari ajang Indonesian Idol 2014. Yunita begitu dikagumi oleh masyarakat Luwuk karena mampu menembus audisi Indonesia Idol dan menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Banggai. Namun, tereleminasinyaYunita di ajang tersebut membuat rasa kecewa para pendukung Yunita di Luwuk.

Dampak dari terleliminasinya Yunita Idol tersebut, Ashanty pun menjadi sasaran luapan kekecewaan. Beberapa pendukung fanatik Yunita saat menjumpai Ashanty di salah satu hotel di Luwuk mengungkapkan kekecewaannya terhadap Anang Hermansyah suami Ashanty yang merupakan salah satu juri pada ajang tersebut karena tidak menolong Yunita dengan menggunakan hak veto juri agar Yunita tidak tereliminasi.

Ashanty pun dengan sabar menjelaskan bahwa suaminya Anang hanya sebagai ketua juri. Keputusan untuk menggunkan hak veto tergantung dari kesepakatan semua Juri. Anang selaku ketua juri hanya menyampaikan keputusan tersebut.

Masyarakat Luwuk sebagian besar menyayangkan Yunita Idol terlalu cepat tersingkir dari ajang Indonesian Idol 2014. Bahkan ada yang mencurigai bahwa Yunita sengaja dipulangkan untuk mengurangi persaingan dari kontestan lain yang sengaja diberi ruang lebih besar dari kontestan lainnya. Namun, disadari ajang ini adalah ajang kompetisi dukungan melalui sms/vote maupun telpon, sehingga bila setiap kontestan memperoleh dukungan rendah maka dengan sendirinya akan tersingkir dari ajang tersebut.





Selengkapnya

Tuesday, March 25, 2014

Yunita Idol Tersingkir, Masyarakat Luwuk Galau

1395577188319797638 
Yunita Idol | Tribunnews.com

Mimpi masyarakat Luwuk untuk menyaksikan Yunita Nursetia Tongke atau Yuyun menjadi juara Indonesian Idol 2014 buyar sudah, setelah Yunita tereliminasi di panggung Spektakuler Show 5 yang berlangsung pada Jumat 21 Maret, di Studio 8 RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Yunita Idol tersingkir dari ajang Indonesian Idol dikarenakan perolehan poling sms/vote maupun telpon sangat rendah. Masyarakat Luwuk Banggai Sulawesi Tengah tak menyangka jika kontestan asal Luwuk yang lolos audisi di Makassar tersebut terlalu cepat pulang.

Penggemar Yunita dalam grup facebook Yuniters Idol banyak yang menyatakan kekecewaannya dengan berbagai komentar, ada yang menanyakan mengapa hanya keluarga Yunita yang tidak di wawancarai, ada yang menyalahkan Juri yang tidak menggunakan hak vetonya untuk menyelamatkan Yunita, ada yang menyalahkan masyarakat Luwuk yang terlalu narsis ingin Yunita menyebut Luwuk yang pada akhirnya pendukung Yunita yang di Makassar beralih ke kontestan asal Makassar, ada pula yang ingin menjadikan Yunita bintang sinetron, ada juga yang berharap manajemen Indonesian Idol membuka babak wild card agar Yunita bisa lolos lagi, bahkan ada yang menyalahkan kurangnya dukungan dari Pemerintah.

Sejak Yunita Idol tersingkir, masyarakat Luwuk Banggai seperti sedang dilanda kegalauan yang dalam, beberapa penggemarnya ada yang berlinang airmata menyaksikan siaran ulang babak Spektakuler Show 5 yang disiarkan tadi sore di stasiun tv RCTI. Saking galaunya beberapa penggemar Yunita menyatakan tidak akan lagi menonton acara Indonesia Idol untuk selama-lamanya.

Luar biasa ekspresi yang ditunjukkan para penggemar Yunita ini, Yunita telah berhasil membius alam pikir masyarakat Luwuk yang biasanya disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing apalagi dibulan kampanye partai seperti ini.

Kita berharap Yunita walaupun gagal menuju babak final Indonesian Idol 2014, dia bisa melanjutkan karirnya di dunia tarik suara seperti finalis Indonesian idol sebelumnya. Semoga.


Selengkapnya

Renungan: Berbagi itu bahagia

Ada seorang gadis mengontrak rumah bersebelahan dengan rumah seorang ibu miskin dengan 2 anak. Satu malam tiba- tiba mati lampu, dengan bantuan cahaya HP dia ke dapur mau mengambil lilin, tiba- tiba ada yang mengetuk pintu, ternyata anak miskin sebelah rumah.
 

Anak itu bertanya panik : "Kakak, kamu punya lilin ?"
 

Gadis itu berpikir : JANGAN PINJAMKAN nanti jadi satu kebiasaan,
maka si gadis berteriak, "TIDAK ADA!!".
 

Saat itulah si anak miskin berkata riang: "Saya sudah duga kakak tidak punya lilin, Ini ada 2 lilin untuk kakak. Kami khawatir karena kakak tinggal sendiri dan tidak punya lilin."
 

Si gadis merasa bersalah, dalam linangan airmata, dia memeluk anak kecil itu erat-erat. Janganlah kita mudah BERPRASANGKA, dan BERBAGILAH. Karena kekayaan tidak tergantung berapa banyak kita PUNYA, tetapi berapa banyak KITA BISA MEMBERI.
***

Selengkapnya

Friday, March 21, 2014

Apakah Hubungan Anda Sehat? Pelajari 5 Tanda Hubungan yang Sehat di bawah ini

Menjalani suatu hubungan yang sehat tentu saja menjadi idaman semua orang, baik pria maupun wanita tentu saja memimpikan suatu hubungan yang sehat demi masa depan. Namun faktanya banyak sekali pasangan diluar sana yang menjalani hubungan yang tidak sehat dan hanya menjadi sebuah bom waktu yang akan berujung tidak menyenangkan.
Berikut ini adalah 5 tanda pertanda hubungan yang sehat. Jika memang Anda sudah berada dalam hubungan yang sehat, bersyukurlah dan terus pertahankan hubungan tersebut. Sementara jika Anda belum merasakan tanda-tanda berikut, tak ada salahnya melakukan perubahan dan mencari hubungan yang lebih sehat.
Anda bisa menjadi diri sendiri
Tanda yang pertama ini sangatlah penting dalam suatu hubungan. Terutama kita para pria, seringkali kita sering mencoba menjadi sosok pria yang diinginkan wanita idaman. Let's say sang wanita idaman menyukai pria yang suka minum alkohol, sementara Anda memang seorang pria yang menikmati one or two shots of whiskey on the weekends. Kemudian demi sang wanita idaman, Anda berpura-pura menjadi pria yang tidak menyukai alkohol.
Contoh tersebut mungkin memang terdengar simple dan seharusnya tidak menjadi masalah, namun harus Anda ingat bahwa mengubah diri Anda menjadi orang lain bisa berbahaya ke depannya. Tentu saja banyak hal kecil lainnya yang bisa dijadikan contoh dalam poin pertama ini, namun terlalu berkompromi dalam hal selera maupun hal lainnya yang menjadi faktor siapakah diri Anda sebenarnya sangatlah berbahaya dalam suatu hubungan. Jika sekarang Anda sudah bisa menjadi diri sendiri bersama pacar Anda begitu pula sebaliknya, maka Anda sudah berada dalam satu tahap dalam suatu hubungan yang sehat.
Menyadari bahwa konflik adalah sesuatu yang normal
Ini dia satu poin yang seringkali menjadi masalah, banyak pasangan di luar sana terutama (maaf) pihak wanita seringkali membesar-besarkan masalah saat terjadi suatu konflik dalam hubungan Anda. Bukan hal yang langka dalam suatu hungan masalah yang sebenarnya kecil menjadi besar. Itulah pertanda bahwa baik di antara Anda maupun pasangan Anda masih kurang dewasa dalam menjalani hubungan dan tentu saja berujung kurang baik untuk kedepannya.
Sadarilah bahwa mempunyai konflik dalam hubungan pacaran sangatlah normal, bagaimana tidak, Anda dan pasangan menjalani kehidupan bersama-sama dan seringkali harus saling berkompromi untuk tujuan yang baik. Maka seringkali perbedaan pendapat menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan, namun disinilah kedewasaan Anda dan pasangan diuji dan kesadaran bahwa konflik merupakan satu hal yang normal sangat dibutuhkan.
Jika Anda dan pasangan bisa menyadari hal tersebut, maka konflik-konflik tidak akan dibesar-besarkan dan tentu saja lebih mudah untuk ditangani, maka Anda sudah berada dalam hubungan sehat yang perlu disyukuri. Jika belum? Cobalah saling berintrospeksi.
Looking out for each other
Saat Anda dan pasangan bisa terus ada untuk satu sama lain, maka Anda akan mempunyai suatu hubungan yang didasari kepercayaan dan ketenangan. Mengetahui bahwa Anda mempunyai that special someone yang akan selalu ada dibelakang Anda dalam hidup tentu saja akan membuat hidup lebih berarti. By the way, this goes both way, baik pria maupun wanita dalam satu hubungan perlu menjadi sosok yang siap memberikan support kapanpun dalam semua aspek kehidupan.
Selalu berada dibelakang pasangan Anda dalam keadaan apapun mungkin memang terdengar mudah untuk dikatakan, namun kenyataannya hal ini merupakan sesuatu yang sangat sulit. Untuk menjadi sosok yang bisa diandalkan kapanpun dan selalu siap menjadi backup pasangan kapanpun membuthkan banyak kesabaran dan kekuatan saat menjalani suatu hubungan, namun jika Anda sudah berada dalam tahap tersebut, maka Anda sudah berada dalam hubungan sehat yang dilandasi kepercayaan tinggi atas pasangan Anda.
Tidak mudah mengatakan kata putus
Sering mengatakan kata putus sebenarnya sering terjadi dalam hubungan berpacaran. Banyak pasangan diluar sana yang seringkali dengan mudah mengatakan kata putus, entah itu sekedar mengancam atau memang benar-benar ingin diucapkan. Namun seringkali mengeluarkan ancaman putus terhadap satu sama lain merupakan pertanda besar bahwa Anda berada dalam hubungan yang tidak sehat. Faktanya adalah, mengancam dengan mengeluarkan kata putus menjadi satu tanda bahwa Anda merasa bahwa sang pasangan lebih rendah dan tidak bisa hidup tanpa Anda.
Jika Anda dan pasangan benar-benar mempunyai perasaan yang kuat satu sama lain, maka ancaman-ancaman murahan dengan kata putus tentu saja bukan merupakan jalan yang Anda tempuh untuk menyesaikan suatu masalah dan hanya membuktikan betapa kekanak-kanakannya hubungan yang Anda jalani. Pasangan yang memilih untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin tanpa ancaman-ancaman dengan kata putus menunjukan level kedewasaan yang tinggi dan merupakan bukti jelas bahwa mereka menjalani hubungan yang sehat. Bagaimana dengan Anda?
You don't have the NEEDS to feel attached
Saat menjalani hubungan terkadang kedua belah pihak bertindak berlebihan dan terlalu membutuhkan satu sama lain setiap saat dan setiap detik. Entah itu menelepon setiap saat, hingga menuntut untuk terus bertemu. Nyatanya, pasangan yang mempunyai hubungan sehat justru terhindar dari hal tersebut. Mereka justru tidak perlu setiap saat berduaan dan saling menelepon setiap beberapa menit untuk mencari tahu kabar satu sama lain.
Terlalu terikat satu sama lain jutru menunjukan pasangan tersebut tidak mempunyai faktor trust diantara mereka. Seperti yang pastinya sudah Anda ketahui, kepercayaan merupakan satu faktor terpenting dalam menjalani sebuah hubungan. Maka pasangan yang bisa menjalani hubungan mereka tanpa terus menerus mencari kabar setiap saat dan selalu harus berduaan di setiap kesempatan, mereka mempuyai sebuah hubungan yang sehat. Apakah Anda menjalani hubungan tanpa kebutuhan untuk terus terikat satu sama lain? Jika jawabannya iya, berarti hubungan Anda bisa dikategorikan sebagai hubungan yang sehat.
Itulah lima tanda yang bisa menjadi acuan terhadap suatu hubungan positif yang sehat. Apakah Anda sudah berada dalam hubungan seperti itu? Jika ya, pertahankalah dengan baik hubungan yang Anda miliki. Jika belum, cobalah untuk saling berintrospeksi bersama pasangan Anda dan perbaikiliah hubungan Anda saat ini demi masa depan yang lebih baik. Jika memang terlalu jauh, tak ada salahnya untuk mencari hubungan baru yang lebih dewasa dan tentu saja lebih sehat.

Selengkapnya