Friday, February 7, 2014

Mengenal Kuskus Beruang ( Kuse' ) Sulawesi

A.  Klasifikasi Kuskus Beruang
Menurut Wikipedia (2013), klasifikasi kuskus beruang sebagai berikut:
Kingdom           : Animalia
Phylum              : Chordata
Class                  : Mamalia
Sub-Class           : Marsupialia
Ordo                  : Diprotodontalia
Sub-ordo            : Phalangeriformes
Family                : Phalangeridae
Genus                : Ailurops
Spesies               : A. Ursinus
B.  Morfologi Kuskus Beruang
Kuskus beruang ukuran tubuhnya hampir seperti kucing atau bahkan bisa lebih besar. Warna tubuh jantan dan betina tidak ada perbedaan. Panjang ekor hampir sama panjang dengan panjang tubuh, bagian ekor ditumbuhi rambut dari pangkal sampai lebih dari setengah panjang total ekor, sisa ujung ekor yang tidak ditumbuhi rambut berwarana hitam, ujung ekor  ini sangat kuat dan dapat digunakan untuk bergelantungan atau melilit batang dahan pohon saat mencari makan (prehensil) dan dapat digunakan sebagai alat untuk menggantung yang menahan seluruh beban tubuh saat dengan posisi kepala di bawah saat mencari makan di pohon.
Daun telinga pendek, hampir tidak terlihat karena tersembunyi dibawah rambut-rambut kepala, bagian luar dan dalam telinga berambut. Warna dasar tubuh bagian atas adalah hitam pucat dengan rambut bagian punggung berwarna coklat kehitaman, beberapa rambut bagian tubuh lain berwarna kuning kecoklatan atau lebih pucat.
Famili Phalangeridae dari ordo marsupialia terdiri lebih dari 17 spesies, yang sebagian besar tergolong hewan pemakan segala (omnivora) dan pemakan tanaman (herbivora) (Flannery et al.,1987). Menurut George (1987) famili phalangeridae memiliki wilayah penyebaran yang luas diantara bangsa-bangsa marsupialia Australia lainnya dan terdapat di Australia, Tasmania, Papua New Guinea, dan beberapa pulau disebelah timur garis wallacea sampai Pulau Solomon. Pulau Sulawesi di Indonesia merupakan batas paling barat dan pulau Solomon merupakan batas paling timur jangkauan wilayah penyebaran kuskus
            Penyebaran kuskus di Indonesia hanya terbatas di wilayah Indonesia Timur yaitu meliputi Pulau Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan Timor. Kinnaird (1997) dan MacKinnon (1992) melaporkan bahwa di Sulawesi terdapat dua jenis kuskus yaitu kuskus beruang (Airulops ursinus) dan kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis). Kuskus beruang merupakan spesies yang paling besar dan paling primitif diantara famili phalangeridae lainnya yang sangat berbeda dengan kuskus kerdil yang ukuran tubuhnya relatif kecil tapi pintar dan kuskus beruang hanya ditemukan di Kepulauan Sulawesi dan sekitarnya. Oleh karena itu kuskus ini merupakan salah satu satwa endemik Indonesia Timur. Kuskus ini tergolong satwa yang biasa hidup di atas pohon (arboreal) yang banyak berlindung dibawah kanopi pohon-pohon di hutan dataran rendah, aktif sepanjang hari, dan umumnya dijumpai berpasangan (Tarmudji dan MacKinon, 1980). Menurut Van der Zon (1979), penyebaran kuskus beruang   di Indonesia meliputi Pulau Sulawesi, Peleng, Talaud, dan Malange, dengan habitatnya adalah hutan dataran rendah hingga ketinggian 2000 meter.
            Ciri-ciri kuskus menurut Petocz (1994) antara lain badannya agak besar dan kokoh dengan panjang tubuh seukuran dengan babi berumur dua bulan, mempunyai ekor prehensil yang panjangnya hampir sepanjang badannya dan sepanjang sepertiga bagian ujungnya tidak berbulu yang sering digunakan untuk mengait pada dahan atau ranting untuk bergelantungan dan berpindah tempat, kepala bulat dengan telinga pendek atau tidak mencolok serta mata yang menonjol keluar. jari-jari kuskus berjumlah lima buah yang semuanya bercakar tajam dan sangat membengkok, kecuali ibu jarinya. Ibu jari dan jari keduanya berhadapan dengan jari ketiga dan jari keempat menjadi satu sehingga terlihat seperti sebuah jari dengan dua kuku. Pada waktu memegang cabang, dua jari pertama cakar ini berhadapan dengan ketiga jari lainnya. Semua memiliki jari-jari kaki pertama yang seperti ibu jari, dan pada kaki belakang jari tersebut tidak bercakar. Kemampuannya untuk memegang cabang dengan keempat kakinya dan mengaitkan dirinya dengan ekornya yang prehensial, menjadikan satwa ini menjadikan satwa ini menjadi pemanjat yang hebat dan sulit dilepaskan dari sebuah cabang. Ciri-ciri lain dari kuskus menurut Nowak (1999) adalah bulunya halus dan tebal menyerupai wol pada semua genus kecuali Wyulda.
            Kuskus betina memiliki kantung yang terletak pada kulit perutnya, berkembang dengan baik, membuka ke arah depan , dan mempunyai empat puting susu. Lama masa kebuntingan pada satwa ini sangat singkat yaitu kira-kira satu bulan. Saat dilahirkan bayi kuskus masih berbentuk mudigah (embrio) yang secara alami akan merayap menuju kantung induknya, berdiam dalam kantung dan akan mengisap puting susu induknya untuk selama 6-7 bulan. Setelah masa itu anak kuskus akan mulai belajar memakan pakan seperti yang dimakan oleh induknya
            Menurut George (1982) dan Grzimek (1972) kuskus merupakan binatang arboreal dengan ekor yang dapat memegang dahan atau ranting (prehensil) dengan kuat. Kuskus beruang mempunyai kebiasaan hidup berpasangan dan aktif sepanjang hari (diurnal) terutama siang hari, berbeda dengan jenis kuskus lainnya yang umumnya aktif pada malam hari (nocturnal) (Kinnaird,1997). Dwiyahreni et al. (1999) melaporkan bahwa habitat aslinya kuskus beruang menggunakan waktunya sebanyak 63,4% untuk istirahat dan tidur, 23% untuk merawat tubuh, 7,5% untuk berpindah tempat, 5,6% untuk makan, dan 0,4% untuk aktivitas sosial (Nurjaeni, 2001)
 
C.  Habitat Kuskus Beruang
Kuskus Beruang Sulawesi merupakan salah satu hewan endemik Indonesia yang hanya bisa ditemui di Pulau Sulawesi. Hewan yang juga disebut Kuse ini tinggal di atas-atas pohon di hutan Sulawesi dan memakan dedaunan serta buah-buahan. Mereka tergolong binatang soliter (penyendiri), tetapi pada saat musim kawin mereka akan hidup dalam kelompok kecil yang berisi induk dan anak-anaknya.
Pergerakan kuskus beruang tergolong tidak biasa. Kuskus beruang akan menggunakan ekornya untuk mencengkeram ranting pada saat berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Mungkin kita akan sedikit kesulitan untuk menemukannya di alam liar karena selain dia tinggalnya di atas pohon, binatang unik ini juga termasuk binatang yang pendiam. Bahkan dia tidak akan bersuara kalau tidak merasa terganggu atau terancam (Hafizsumarno, 2012)
Hewan unik ini hanya mengalami masa melahirkan sekali atau dua kali saja dalam satu tahun. Kuskus beruang memiliki kantung yang berfungsi untuk menggendong anak-anaknya. Seperti layaknya kangguru, kantong kuskus beruang juga terdapat pada bagian perut.
Hal lain yang unik yang dimiliki oleh hewan pohon ini adalah kegemarannya tidur. Hampir sama dengan Koala, hewan langka ini juga gemar sekali tidur. Hal ini mereka lakukan untuk membantu proses pencernaannya. Jika spesies kuskus biasanya aktif di malam hari (nokturnal), lain lagi dengan kuskus beruang yang justru lebih aktif di siang hari. (Faunague, 2012).
Kuskus beruang merupakan satwa yang menghabiskan banyak waktunya dikanopi pohon (arboreal) sehingga pengamat berpeluang dapat bertemu dengan kuskus beruang dihabitat utama dari satwa ini dikanopi bagian atas hutan hujan tropis Sulawesi
Kuskus beruang hidup sendiri-sendiri, tidak berkelompok. Mereka mendiami bagian atas pohon-pohon tinggi. Untuk bergerak dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain, kuskus beruang menggunakan ekornya. Ekor kuskus beruang berfungsi untuk mencengkram dahan pohon. Habitat kuskus beruang adalah hutan-hutan di Sulawesi, Kepulauan Togian, Pulau Peleng dan Kepulauan Talaud. Sayangnya, binatang unik ini terancam punah. Penyebabnya adalah perburuan dan rusaknya habitat (Dini Lestari, 2012).
 
D.  Daerah Jelajah Kusksus Beruang
Daerah jelajah adalah suatu faham abstrak yang menyatakan jumlah gerakan pindah suatu hewan selama masa tertentu (Birute Marija, 1978)
Homerange  adalah daerah dimana hewan tersebut hidup. Home range hewan adalah suatu tempat dimana hewan-hewan tersebut menutupi/berkisaran pada tempat tersebut untuk mencari makan, kawanan, dan lain-lainnya. Daerah jelajah ini tidak hanya dihuni oleh satu spesies saja. Didalam home range tidak terjadi tingkah laku yang agresif. Sebuah home range mungkin akan dipertahankan oleh sebagian atau seluruh spesies yang berada pada wilayah tersebut (Nurjeni, 2001).
Kuskus beruang bergerak lambat dari satu pohon ke pohon lainnya menggunakan ekor prehensilnya dan tangan serta kakinya Kuskus beruang aktif pada siang hari (diurnal)Sebagian besar aktivitas hariannya banyak digunakan untuk beristirahat dan tidur, sedikit waktunya digunakan untuk makan dan mengutu (grooming), waktunya untuk berinteraksi juga sangat sedikit, kegiatan tersebut dilakukan sepanjang siang dan malam. Waktu istirahatnya yang banyak digunakan untuk mencerna selulosa dari dedaunan sebagai sumber makanannya yang mengandung sedikit nutrisi (Sptn bantimurung, 2011).
Makanan kuskus Beruang adalah daun-daun muda. Bunga-bungaan dan buah masih mentah. Kuskus beruang suka daun muda karena lebih mudah dicerna dan lebih sedikit racunnya (Yefbenedicpanjaitan, 2011).
Pakan yang disukai kuskus adalah buah-buahan dan daun serta dalam jumlah sedikit berupa bunga dan kulit batang (Farida et al.,1999), sedangkan kuskus beruang di habitat aslinya paling banyak mengkonsumsi pucuk daun muda dan batang muda (Nurjaeni, 2001).
 
E.  Stratifikasi Hutan
Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan pertumbuhan secara  vertikal didalam suau komunitas pertumbuhan atau ekosistem hutan. Pada tipe ekosistem hutan hujan tropis, stratifikasi itu terkenal dan lengkap. Tiap lapisan dalam stratifikasi itu disebut status atau strata
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pada hutan tropis terdapat pepohonan yang tumbuh membentuk beberapa stratum tajuk. Stratifikasi yang terdapat pada hutan hujan tropis dapat dibagi menjadi lima stratum berurutan dari atas ke bawah, yaitu stratum A, stratum B, stratum C, stratum D, dan stratum E (Arief, 1994) Masing-masing stratum diuraikan sebagai berikut:
1.   Stratum A (A-storey), yaitu lapisan tajuk ( kanopi ) hutan paling atas yang dibentuk oleh pepohonan yang tingginya lebih dari 30 m. Pada umumnya tajuk pohon pada stratum tersebut lebar, tidak bersentuhan ke arah horizontal dengan tajuk pohon lainnya dalam stratum yang sama, sehingga stratum tajuk itu berbentuk lapisan diskontinu. Pohon pada stratum A umumnya berbatang lurus, batang bebas cabang tinggi, dan bersifat intoleran (tidak tahan naungan).
2.   Stratum B (B-storey), yaitu lapisan tajuk kedua dari atas yang dibentuk oleh pepohonan yang tingginya 20-30 m. Bentuk tajuk pohon pada stratum B membulat atau memanjang dan tidak melebar seperti pada tajuk pohon pada stratum A. Jarak antar pohon lebih dekat, sehingga tajuk-tajuk pohonnya cenderung membentuk lapisan tajuk yang kontinu. Spesies pohon yang ada, bersifat toleran (tahan naungan) atau kurang memerlukan cahaya. Batang pohon banyak cabangnya dengan batang bebas cabang tidak begitu tinggi.
3.   Stratum C (C-storey), yaitu lapisan tajuk ketiga dari atas yang dibentuk oleh pepohonan yang tingginya 4-20 m. Pepohonan pada stratum C mempunyai bentuk tajuk yang berubahubah tetapi membentuk suatu lapisan tajuk yang tebal. Selain itu, pepohonannya memiliki banyak percabangan yang tersusun dengan rapat, sehingga tajuk pohon menjadi padat. Pada stratum C, pepohonan juga berassosiasi dengan berbagai populasi epipit, tumbuhan memanjat; dan parasit .
4.   Stratum D (D-storey), yaitu lapisan tajuk keempat dari atas yang dibentuk oleh spesies tumbuhan semak dan perdu yang tingginya 1-4 m.Pada stratum ini juga terdapat dan dibentuk oleh spesies pohon yang masih muda atau dalam fase anakan (seedling), terdapat palma-palma kecil, herba besar, dan paku-pakuan besar.
5.   Stratum E (E-storey), yaitu tajuk paling bawah atau lapisan ke lima dari atas yang dibentuk oleh spesies-spesies tumbuhan penutup tanah (ground cover) yang tingginya 0-1m. Keanekaragaman spesies pada stratum E lebih sedikit dibandingkan dengan stratum lainnya.
Perluh diketahui tidak semua tipe ekosistem hutan memiliki lima stratum tersebut diatas. Oleh karena itu, ada hutan yang hanya memiliki sratum A, B, D, dan E, atau A, C, D, dan E dan lain sebagainya.

Sumber : http://adhyflower.blogspot.com/2013/11/mengenal-kuskus-beruang-sulawesi.html

Share :

No comments:

Post a Comment